Puisi yang terakhir




Kita harus saling memaafkan. Begitulah akhirnya. Kata-kata yang sudah beberapa kali. aku tahu, utuk melakukannya, kurasa kita akan sama-sama kesulitan. Tetapi apalagi, setelah kita sama-sama ngak searah, setelah tidurku yang tak akan pernah bisa nyenyak ini. Kau benar, barangkali, inilah jalan satu-satunya. Kau tak bisa meninggalkan orang terkasihmu dan lingkungan yang selalu memberimu tempat ternyaman. Mungkin lebih baik kau kehilangan yang satu ini yang..hany buang waktumu ketimbang kau kehilangan banyak...

Aku mencintaimu. Aku ingin memberi yag baik buatmu. Aku tak mau didustai dan tak mau dicurigai. Kita sama-sama keras kepala dan egois. Aku selalu merasa bodoh dan mungkin saja Kau merasa terancam dan diteror tiap kali aku menyapamu.... Apa boleh buat, kita sama-sama memiliki satu hal yang berbeda. Aku tak suka dicuekin,. Dan kau tak bisa meninggalkan apa pun untukku. Tentu lebih ringan kehilangan satu ketimbang yang banyak itu.
Tapi bagiku, kehilanganmu adalah kehilangan segalanya. Kupikir kau juga sesekali merasa rindu..mungkin dengan puisi-puisi yang kau mungkin anggap gombal...
Tapi begitulah hidup. Aku cengeng dan kau begitu tegas. Kupikir segalanya akan baik-baik saja. Ternyata aku lebih banyak kekuranganku ketimbang kelebihanku. Jadi maafkan aku jika pernah mencintaimu...

Mungkin saja kita suatu malam.. sedang menatap bintangyang sama, di tempat yang berbeda dengan rasa yang lain pula. Sebab aku begitu mencintai bintang dan selalu ingin meraihnya.
Aku menyayangimu. Maka aku tak ingin mengganggummu lagi. Sebab kita tak bisa hidup melulu dalam kesal dan benci. dan kau lebih memilih melupakan semua perihal tentang akua. melupakan hal-hal konyol yang pernah kita lewati, hal-hal yang belum sempat kita lakukan, hal-hal yang masih menjadi impian, hal-hal yang barangkali belum tercatat.
malam ini, seperti malam-malam lalu. aku sendiri dengan seluruh kerelaan yang kumiliki....

aku takan ganggu kamu lagi....!!

Ditulis Oleh : Nur Yanto Hari: 8:41 AM Kategori:

0 comments: