Nikah Itu Nggak Harus Nunggu Punya Uang


Oleh: Agatha Yunita
Add caption
Seorang teman pria pernah berkata, "nanti dulu ah nikahnya, nunggu punya uang dulu." Alasan tersebut memang terdengar masuk akal. Bagaimana bisa menikah kalau belum punya uang? Tetapi kalau dipikir lagi, haruskah menunggu sampai terkumpul berapa banyak uang dulu, baru kemudian berpikir soal menikah?
Jaman sekarang, tak hanya pria saja yang bekerja mencari penghasilan. Wanita juga tak hanya diam di rumah dan mengurus anak. Wanita masa kini, lebih senang melakukan banyak hal sekaligus, bekerja, mengurus anak, mengurus keluarga dan kebutuhan rumah tangga. Yang jelas, agar dapur tetap mengepul tak semuanya dibebankan pada suami saja. Istri juga ikut berusaha agar beban itu tidak ditanggung suami sendiri, dan jalannya lebih ringan. Tetapi mengapa masih ada yang berpikir bahwa menikah itu harus menunggu punya uang ya?
Stereotipe Kuno: berpenghasilan dulu, kemudian menikah
Sebenarnya ini adalah pemikiran kuno, di mana jaman dahulu, soal kebutuhan hidup semua dibebankan pada pria saja. Pria bekerja membanting tulang demi mencukupi kebutuhan istri dan anak-anaknya. Tak heran jika pada akhirnya wanita berpikir untuk mencari pria yang mapan, yang sudah bekerja sebagai syarat untuk menjadi suami baginya. Alhasil, cinta, kecocokan dan kenyamanan bukan menjadi nomor satu lagi dalam sebuah pernikahan. Selama pria itu bisa mencukupi kebutuhan materi dan fisik, ia sudah layak disebut sebagai calon suami.
Mungkin dari sini juga muncul istilah 'wanita materialistis', di mana wanita memang menuntut pria yang lebih bisa mencukupi kebutuhan materi. Sekalipun banyak pria yang protes, sebenarnya ini juga tidak sepenuhnya kesalahan wanita. Pria yang terlebih dahulu memilih untuk mapan kemudian memikirkan soal pernikahan, tidak salah juga kalau akhirnya wanita memang mencari pria yang sudah mapan, kan?
Stereotipe Modern: menikah, dan berpenghasilan
Pria sudah banyak yang berubah. Menyadari kemandirian dan keinginan wanita untuk menyetarakan diri, perlahan pria juga memberi jalan pada wanita untuk berusaha dan berpenghasilan sendiri. Di sinilah akhirnya pernikahan itu tak lagi bergantung pada status pria yang harus sudah mapan saja. Konsep calon suami juga berubah, pria tak harus sudah mapan dan berpenghasilan untuk meminang kekasihnya. Bahkan banyak kok mereka yang masih kuliah dan berstatus menikah.
Namun ada beberapa kekurangan pada metode modern ini.
Yang pertama, tekanan yang diemban pria juga cukup besar. Rasa ketakutan dan kekhawatiran bahwa dirinya tak pantas untuk pasangan seringkali muncul. Belum lagi pertanyaan 'apakah aku bisa membahagiakan pasangan' menjadi momok yang berhasil menimbulkan depresi tersendiri. Ada yang sukses melewatinya, ada yang hingga sekarang masih mencari jawaban dan bertanya-tanya ke mana perginya nyali itu.
Yang kedua, wanita jadi terlalu asal dalam memilih pasangan hidup. Selama saat itu usianya sudah cukup, ia cinta, dan rata-rata semua teman wanitanya sudah menikah, maka ia juga tak mau kalah. Pertimbangan-pertimbangan yang lebih dalam tak lagi ada. Bahkan mungkin, ia sendiri juga tidak yakin apakah ia benar-benar mencintai dan cocok dengan pasangannya. Yang penting baginya adalah menikah dan punya status sebagai istri.
Separah itukah metode ini?
Tentu tidak. Sebagian besar orang dapat menerapkan metode ini dengan baik dan memetik hasil positifnya.
Bagi pria, hal ini membuatnya terpacu untuk lebih punya rasa tanggung jawab dan keinginan untuk mencukupi kebutuhan keluarga dan membahagiakan istrinya. Ia jadi punya tujuan hidup yang lebih jelas.
Bagi wanita, ia tidak harus tergantung pada penghasilan suami. Ia bisa mandiri dan menyalurkan keinginannya, menggapai apa yang disebut prestasi dan impian.
Selain itu, keduanya tak hanya terpaku soal materi saja. Dapat memilih pasangan yang memang klop dan nyaman. Bekerja sama satu sama lain demi membangun rumah tangga impian, terutama dalam hal materi dan pembagian tugas. Rasanya cukup adil dan menyenangkan, bukan?
Menikah itu tidak harus menunggu punya banyak uang kok. Selama diri Anda siap, dan tahu benar resiko serta tanggung jawab, Anda tak harus menunggu lama-lama. Soal materi toh bisa dicari berdua, tak harus dibebankan pada salah satunya saja.


Ditulis Oleh : Goresan Hati Hari: 04.38 Kategori:

0 komentar: