Cerpen Cinta Remaja Rahasia Hati Sang Pengagum

Dalamnya lautan dapat diduga, tapi dalamnya hati siapa yang bisa tahu? Siapa yang bisa ukur? Itu hanyalah sebuah ungkapan dan pepatah lama ini sudah sering kita dengar. Kita memang sulit untuk membaca hati seseorang, apakah ia suka sama kita atau tidak? Apakah ia perhatian sama kita atau tidak? Apakah ia benci sama kita atau tidak? Mungkin hanya dengan bahasa hati pula kita bisa membaca hati seseorang. Atau mungkin juga, kita bisa membaca hati seseorang melalui prilakunya, perkataannya atau melalui sikapnya terhadap kita. Itupun nggak bisa menjamin seratus persen.

Dilema masalah hati inilah yang sedang dihadapi oleh Elena sekarang. Dia begitu mengagumi Rangga temen sekelasnya, sementara dia pun tahu kalau Riri temen dekatnya juga begitu mendambakan Rangga. Sedangkan Rangga sendiri kelihatannya biasa-biasa saja. Akan tetapi perasaan hati yang sedang bergejolak ini tidak pernah diketahui oleh kedua sobatnya. Elena pun takut kalau hal ini akan diketahui oleh Riri. Dia takut kalau perasaan hati Riri akan hancur, jika ia ungkapkan perasaan hatinya kepada Rangga. Ia tidak mau menhancurkan persahabatannya dengan Riri.
Elena menyadari kekurangannya. Dia nggak begitu cantik, orangnya rada hitam tapi dia manis juga kok. Elena juga menyadari kalau dirinya tidak seputih dan secantik Riri. Riri juga orangnya begitu gaul, agresif dan ceria, sedangkan dirinya termasuk orang yang nggak begitu gaul dan sedikit tertutup. Makanya ia tidak berani mengungkapkan isi hatinya kepada Rangga. Ia hanya bisa mengagumi dan berkhayal jika kelak Rangga tahu isi hatinya (Ya, nggak mungkinlah, Len. Mana mungkinlah Rangga tahu isi hatimu, kalau kamu sendiri nggak pernah bicara dan tertutup).

Untuk mengungkapkan semua perasaan hatinya, Elena hanya bisa mengekspresikan melalui puisi-puisi yang sering ditulisnya. Puisi-puisi itu sering ditempelkannya di mading sekolah tanpa disebutkan siapa penulisnya. Sehingga temen-temennya di sekolah tidak pernah tahu siapa penulis puisi misterius itu. Anehnya ia tidak pernah berharap, jika kelak Rangga akan tahu kalau puisi-puisi itu adalah tulisannya yang memang ditujukan untuk Rangga.

Puisi-puisi yang ditulis oleh Elena selalu membuat temen-temen yang membacanya menjadi senang dan mengaguminya, sehingga puisi-puisi dan penulis yang misterius itu menjadi perbincangan di sekolah.
”Ngga, pasti orang yang menulis puisi ini lagi jatuh cinta dengan seseorang, karena dari isinya menggambarkan kalau si penulis sedang mengagumi seseorang,” kata Randi suatu hari berkata pada Rangga. ”Tapi siapa penulisnya? dan siapa yang dikaguminya? kita nggak pernah tahu,” lanjut Randi pula.
”Iya, gua juga suka dan puisinya begitu menyentuh hati,” jawab Rangga yang nggak tahu kalau puisi itu ditulis dan hanya ditujukan oleh Elena untuk dirinya. ”Sayang Sekali kita tidak pernah tahu siapa orangnya, padahal mading kita sangat membutuhkan orang yang seperti penulis puisi misterius ini. Mading kita sangat membutuhkan orang-orang yang sangat peduli dengan mading sekolah, guna menghidupkan kembali mading sekolah yang seolah sekarang ini sudah sepi dan tidak ada lagi yang peduli. Bila suatu saat kita tahu siapa orangnya dan siapapun dia, gua sangat berharap dia mau menjadi pengurus mading sekolah, biar mading ini bisa semarak kembali nggak melempam seperti sekarang minus dengan kegiatan,” lanjut Rangga.

Seperti biasa ketika jam sekolah baru dimulai, sepanjang jalan Ki Hajar Dewantara selalu dipadati anak-anak sekolah, begitu juga ketika jam sekolah sudah berakhir. Karena wilayah ini memang menjadi pusat konsentrasi pendidikan. Sehingga sepanjang jalan ini selalu ramai dan rada macet. Umumnya mereka berjalan nggak memperdulikan pengguna jalan lain terutama kendaraan yang melewati jalan ini. Ditambah lagi disepanjang perjalanan, mereka selalu bercanda dan tertawa tanpa memperdulikan keselamatan diri mereka masing-masing. Termasuk juga Riri dan temen-temennya seperti si Oni yang selalu heboh, Teo si Jail, Rangga dan Elena. Mereka biasanya akan terus berjalan dan baru berpisah setelah menemukan angkot yang jurusannya menuju tempat tinggalnya.
”Oke, sampe ketemu besok ya,” kata Oni pada Riri, Elena dan Rangga.
”Gua juga ya. Gua cabut duluan, Ngga,” kata Teo sambil melambaikan tangan pada temen-temennya menyusul dibelakang Oni yang sudah duluan naik angkot. Mereka berdua emang kebetulan satu jurusan dan rumah mereka pun saling berdekatan, sehingga mereka sering pergi dan pulang sekolah bareng.
”Oya, Ri, ntar sore temenin gua ke toko buku ya? Gua mau cari majalah,” kata Elena kepada Riri.
”Gua ikut dong,” kata Rangga pula.
”Baiklah kalau begitu, gua mau aja. Tapi jemput gua dong,” jawab Riri.
”Iya deh. Pokoknya tunggu aja di rumah, ntar gua meluncur,” jawab Elena.
”Oya, Ri, rumah Elo tu jauh kan? Gua jemput Elena dulu, kemudian kita berdua baru ke rumah lo,” kata Rangga.
Mendengar Rangga mau menjemputnya, Elena menjadi berdebar-debar. Ada sesuatu yang bergejolak di dalam dadanya dan getaran itu sangat kencang banget. Sebab selama ini Rangga nggak pernah menjemputnya, makanya ia sedikit menjadi nervous. Jangankan berjalan berdua, menatap wajahnya saja Elena selalu berdebar-debar, walaupun selama ini mereka selalu jalan bersama. Mereka bertiga selalu jalan bareng, apalagi Riri sangat seneng bila selalu dekat dengan Rangga.

Tepat pukul 16.00 wib, Rangga tiba di rumah Elena, yang emang sudah dari tadi menunggunya dengan perasaan berdebar-debar. Kemudian mereka berdua pun langsung meluncur ke rumah Riri. Sepanjang perjalanan di dalam hati Elena selalu berdebar-debar nggak karuan, sebab selama di dalam angkot Rangga selalu memegang tangannya. Sementara Rangga nggak tahu apa yang sedang bergejolak di hati Elena. Elena pun banyak diamnya dan hanya sesekali berbicara, itu pun bila ditanya Rangga.
”Kok kamu diam aja sih, Len? Emangnya ada masalah?” tanya Rangga yang mencoba mengusik untuk membuka kebisuan Elena.
”Tidak ada apa-apa,” jawab Elena singkat. Padahal ada masalah yang cukup besar di dalam hatinya. Kemudian Elena kembali hanya tersenyum dengan senyumnya yang emang manis.
”Kalo udah dapet majalah yang kamu cari, kita langsung cari makanan dan minum aja ya?” lanjut Rangga lagi.
”Baiklah,” jawab Elena melalui suaranya yang lembut itu dan sepertinya begitu mahal untuk dikeluarkan.
Tak beberapa lama kemudian, mereka pun tiba di rumah Riri. Rupanya saat itu Riri masih lagi belon siap. Dia baru aja selesai mandi dan saat ini lagi dandan sedikit biar terlihat menarik, soalnya ia ingin Rangga melihatnya selalu cantik.
Selanjutnya mereka bertiga pun meluncur ke toko buku yang mereka tuju. Setelah itu mereka bertiga pun mencari makanan dan minum untuk nyantai. Sesekali mereka bercanda dan tertawa, terutama Riri dan Rangga. Tapi selama dalam perjalanan, di dalam hati Elena ada sedikit rasa cemburu, walau selalu dicobanya untuk dibuang jauh-jauh rasa itu. Siapa yang nggak cemburu, kalau selama diperjalanan Rangga dan Riri selalu mesra, bermanja ria, saling berpegangan tangan. Seolah-olah mereka berdua lupa kalau mereka saat itu lagi bertiga.

Riri memang selalu senang disisi Rangga dan dia yang selalu agresif mendekati Rangga. Padahal Rangga menganggap Riri dan Elena temenan aja, tapi Riri tidak mau begitu, ia menganggapnya lain. Disisi lain Elena pun secara diam-diam menyimpan perasaan lain pula dengan Rangga.
Sampe pada suatu hari, Rangga ngga bisa lari dari gencarnya kejaran cinta Riri. Sehingga dia berada pada posisi yang sulit, sebab dia nggak mau persahabatan mereka bertiga akan berubah menjadi tidak harmonis lalu menjadi retak. Rangga pun sebenarnya nggak begitu menaruh hati pada Riri, ya karena persahabatan tadi. Tapi siapa pun manusianya kalau selalu dikejar oleh cewek, apalagi kalau yang mengejar itu cewek cantik pastilah akan tergoda juga. Apalagi cewek itu Riri yang emang cantik, cowok mana sih yang nggak terpikat. Kagak dikejar aja udah banyak yang ngantri untuk menggoda.
Lelaki itu ibarat kucing, kalau udah melihat ikan, laper nggak laper selalu aja pingin nyolong tuh ikan. Kalau sang ikan lagi ada tuannya, si kucing pura-pura malu kucing (dasar kucing) sambil menunggu kelengahan sang tuan untuk mengambil tuh ikan. Tapi coba kalau nggak ada tuannya, habis deh tuh ikan. Apalagi kalau tuannya sendiri yang memberikan ikannya, alangkah senangnya sang kucing.

Suasana inilah yang sedang dihadapi oleh Rangga, dia sedang disodorkan sepotong ikan cinta dari tuannya. Tapi ia tidak seperti kucing tadi. Dan itu bukan berarti dia lelaki yang tidak normal. Tapi kali ini posisinya lain, dia sangat menghargai wanita dan menjunjung tinggi persahabatannya. Emang sifat, watak dan hati seseorang tidaklah sama. Rambut boleh sama hitamnya, tapi isi hati beraneka ragam. Ya ibarat pepatah tadi dalam laut bisa diduga, dalamnya hati tak bisa diduga.
”Rangga?” kata Riri suatu hari ketika sedang berada di dalam kelasnya dan saat itu kebetulan hanya mereka berdua isinya.
”Ada apa sih? Seperti ada sesuatu yang serius aja,” tanya Rangga.
Riri terus mengetukkan penanya ke meja dan sesekali menggigit ujung penanya untuk menutupi nervousnya. ”Sebenarnya perasaan ini sudah lama ingin aku ungkapkan pada kamu. Saat ini gua pikir adalah saat yang paling tepat untuk aku katakan. Sebenarnya aku……aku sayang kamu, aku……cinta banget sama kamu, Ngga,” kata Riri dengan rada gugup.

Rangga sama sekali nggak menyangka dengan ucapan Riri. Sama sekali nggak pernah terlintas dalam benaknya hal itu akan terjadi. Rangga seperti kesamber petir, ia seperti mau jatuh aja dari berdirinya. Dia nggak menyangka kalau kata-kata itu yang akan diucapkan Oleh Riri untuk dirinya.
”Ri, apa aku nggak salah denger? tanya Rangga sedikit bingung lalu terdiam sejenak dan begitu pun Riri hanya terdiam. ”Gua sudah menganggap kita selama ini hanya temenan aja, nggak lebih. Gua Takut, Ri. Gua takut kalau kita lebih jauh akan merusak persahabatan kita, kamu dan Elena.”
”Gua ngga bisa, Nggak. Gua nggak sanggup menahan perasaan ini. Aku ingin kamu menjawab yang jujur dan aku mau jawabanmu sekarang,” kata Riri memaksa.

Rangga jadi serba salah, disatu sisi ia takut menyakiti hati temennya yang lain yaitu Elena, disisi yang lain ia takut persahabatan mereka bertiga akan merenggang. Elena bagaimana? Pikirnya.
”Ri, gua sayang sama kamu juga sama Elena. Kalian sahabat-sahabatku yang baik. Aku sangat menjunjung tinggi persahabatan kita, tapi kalau pun itu harus terjadi dan kita jalani asalkan tidak merubah suasana persahabatan kita. Seandainya itupun terjadi, gua nggak mau Elena mengetahuinya. Aku harap kamu bisa memaklumi.”
”Makasih Ngga. Gua siap menjalaninya,” jawab Riri penuh keyakinan padahal Rangga belum memutuskan apa-apa.
Setelah terdiam beberapa saat dan dalam keadaan perasaan berat dan pikiran bercabang, Rangga pun mengangguk pelan dan pasrah. Dalam hatinya ia tidak mau menyakiti hari Riri. Sementara di dalam hatinya sulit untuk mengatakan yang sebenarnya. Elena bagaimana? Bagaimana kalau ia tahu? Pikirnya lagi.
Lebih kurang tiga bulan sudah mereka menjalani perjalanan cinta ini. Boleh dikatakan cinta terlarang atau backstreet buat persahabatan mereka bertiga. Tanpa disadari mereka telah menodai putihnya persahabatan mereka, terutama terhadap Elena.
Sebenarnya perjalanan cinta yang mereka jalani tidaklah berimbang dan berat sebelah. Rangga nggak begitu sepenuhnya mencintai Riri. Dia lebih senang kalau mereka jalan bareng seperti temen ketimbang pacaran.
Selama lebih kurang tiga bulan itulah akhirnya kecurigaan Elena pun muncul. Elena mengetahui kalau Rangga dan Riri pacaran. Betapa hancur hati Elena saat itu, tapi ia selalu berusaha menyembunyikan dan tidak ingin mereka mengetahuinya. Dia tidak ingin mengganggu persahabatan mereka hanya karena masalah cinta. Dia berusaha untuk selalu tegar, walaupun di dalam hatinya hancur dan kecewa yang teramat sangat. Perih!
Apa yang selama ini ditakut-takuti oleh Rangga benar-benar terjadi. Elena mengetahui hubungannya dengan Riri. Emang sulit untuk menyimpan rahasia ini pikirnya. Ya ibarat sebuah pepatah ”sepandai-pandai kita menyimpan kebusukan suatu saat pasti akan tercium juga.”
Memang persahabatan mereka tidak terganggu, tapi ada sedikit pergeseran walau itu sangat tipis dan sulit terlihat namun bisa dirasa.

Akhirnya Rangga pun tak sanggup untuk bertahan dengan suasana seperti ini. Dia tidak ingin membiarkan suasana yang sudah tidak enak ini terus berlanjut. Rangga pun berbicara pada Elena, ketika mereka berdua lagi istirahat di kantin sekolah. Dia tidak ingin mendiamkan dan menyimpan rasa bersalah ini.
”Maafkan aku, Len. Gua terpaksa, gua tidak sanggup menolak dan gua tidak sanggup menyakiti perasaan hati Riri. Lebih jauh aku takut persahabatan kita akan hancur. Aku yakin kamu mau mengerti,” kata Rangga berterus terang agar Elena tidak tersakiti.

Kamu nggak tahu Ngga kalau justru hati aku yang hancur. Kamu mau tahu yang sebenarnyta, Ngga? kalau aku pun begitu mengagumi kamu. Kamu nggak tahu kalau aku juga kecewa bisik hati Elena.
”Aku mengerti, Ngga. Aku harap kamu bisa membahagiakan Riri, jangan kamu sia-siakan dia,” jawab Elena sambil mencoba tegar dan tabah walau sebenarnya dihatinya tidak setegar kenyataannya.
Walaupun ada jawaban yang begitu bijaksana dari Elena, Rangga sebenarnya dapat merasakan apa yang ada di dalam hati Elena. Karena dari tatapan wajahnya tersirat sesuatu perasaan yang lain. Dia dapat membaca itu dan itu tidak bisa dipungkiri hatinya.

Waktu terus berlalu, hari pun berganti hari. Enam bulan berikutnya ternyata Elena tidak tahan juga, dia tidak sanggup lagi mempertahankan ketegaran hatinya. Dia berharap dengan berlalunya waktu dan bergantinya hari bisa menghapus semua itu, tapi ternyata tidak. Akhirnya jalan yang diambil untuk melupakan perasaannya itu, ia memutuskan untuk pindah sekolah. Ia pun pindah sekolah ke kampung eyangnya. Eyang pun begitu senang mendengar Elena mau sekolah dan tinggal bersamanya di kampung.

Mendengar kepindahan Elena, Rangga dan Riri sangat menyayangkan dan merasa kehilangan. Namun mereka tidak bisa menahan keputusan Elena tersebut. Ia tidak tahu mengapa Elena tega meninggalkan cerita indah persahabatan mereka.
”Kalau itu keputusan kamu, aku pun tidak bisa menahanmu. Tapi aku harap kamu tidak melupakan kami disini, kamu tidak melupakan persahabatan kita yang terlalu indah bagiku untuk kamu tinggalkan,” kata Rangga.
”Suatu saat aku berharap, kamu akan selalu ingat untuk pulang kembali kesini dan jangan lupa kirim kabar kepada kita,” kata Riri berharap.

Ketika jam pelajaran usai, Elena pun berpamitan kepada teman-temannya. Itu adalah hari terakhir ia bersama dengan teman-temannya di sekolah itu.
”Buat temen-temenku yang sangat baik-baik, aku mohon maaf kalau kita harus berpisah karena kepindahanku. Aku mohon maaf bila dalam persahabatan selama ini ada sesuatu kurang baik dari aku, baik ucapanku atau perbuatanku selama ini. Aku mohon pamit dan mungkin ini hari terakhir kita bersama. Aku harap kalian tetap kompak dan belajar yang rajin tentunya,” kata Elena yang akhirnya tak mampu menahan sedih di dalam hatinya yang harus terpaksa berpisah dengan teman-temannya. Sedih itu pun berujung menjadi sesak yang akhirnya meledak menjadi isak tangis. Elena pun menangis.
”Jangan lupakan kami ya, Len,” kata Oni ikut terharu sambil memeluk Elena, yang kemudian diikuti oleh Riri.
Setelah itu akhirnya mereka pun pada pulang, tetapi ketika Rangga dan Riri yang kebetulan agak belakangan pulangnya mau melewati bangku yang selama ini diduduki oleh Elena, mereka menemukan buku harian Elena yang tertinggal. Namun sayang ketika Rangga mau mengembalikannya, Elena keburu sudah jauh dan tidak kelihatan lagi.
Betapa kagetnya Rangga dan Riri saat membaca buku harian itu. Ternyata penulis puisi misterius selama ini adalah Elena. Itu terbukti dari puisi yang selama ini ada di mading sekolah terdapat pula di dalam buku hariannya. Akan tetapi, yang lebih mengagetkan lagi dan membuat sesak nafas Rangga adalah namanya terukir di dalam buku harian itu. Dia begitu mengagumi Rangga. Riri dan Rangga hanya saling berpandangan dan dari tatapan mereka seolah berkata kalau mereka telah berdosa, apalagi Rangga. Mereka nggak percaya dengan apa yang telah mereka lihat.

Riri baru menyadari akan sikapnya selama ini, ia merasa begitu menyesal dan berdosa setelah membaca buku harian Elena itu. Ia baru sadar kalau kepindahan Elena karena dirinya, karena hubungannya dengan Rangga.
”Aku nggak bisa biarkan ini terjadi, Ngga. Aku nggak mau Elena kecewa. Aku nggak mau persahabatan kita juga hancur hanya karena keegoan aku. Kamu harus menemui Elena dan menyatukan cinta kalian, Ngga,” kata Riri sambil tersedu-sedu dipelukan Rangga.
”Iya, aku akan menyusul Elena,” jawab Rangga.
”Kita tak bisa jalan bersama, selain sebagai teman. Aku sadar kalau aku terlalu memaksa. Aku menyadari tak bisa memiliki semua cintamu bahkan dirimu. Aku rela kita berteman aja. Aku yakin kontak bathin kamu dan Elena begitu kuat, walaupun kalian tidak menyadari. Demi sahabatku aku rela,” lanjut Riri.
Cinta emang nggak bisa dipaksakan, dia akan hadir dan tumbuh dengan sendirinya. Kapan dan dimana dia akan hadir tidak pernah kita ketahui, begitu pun kapan dia akan pergi tidak akan pernah kita tahu.

Maafkan aku, Elena. Ternyata selama ini kamu memperhatikan aku. Aku tidak tahu kalau selama ini didekatku ada sebuah mutiara yang begitu berharga dan indah, ada bidadari yang begitu mencintaiku, bisik hati Rangga.
Besoknya Rangga pun langsung meluncur ke rumah Elena, tapi sayang Elena sudah keburu berangkat menuju stasiun kereta. Rangga pun bergegas mengejar ke stasiun tapi sesampai di stasiun, kereta yang membawa Elena sudah berangkat. Ia hanya bertemu dengan Ibu dan Ayahnya Elena yang ikut mengantarkan Elena ke stasiun.
Rangga pun pulang dengan perasaan hampa dan menyesal. Elena oh Elena, mengapa kau pendam perasaan hatimu karena hanya untuk membahagiakan temanmu. Begitu besar jiwa dan hatimu Elena, gumamnya dalam hati.

Malam setelah keberangkatan Elena, betapa terkejutnya Rangga dan Riri, apalagi orang tua Elena. Kereta api yang membawa Elena menuju kampung eyangnya bertabrakan dan banyak merenggut korban jiwa, termasuk Elena. Berita tentang meninggalnya Elena baru diketahui beberapa jam setelah kejadian itu. Ibu Elena yang mendengar berita itu langsung pingsan, sedangkan ayahnya berusaha tegar walaupun air matanya terus mengalir deras.

Sementara itu, Rangga sangat menyesal, ia pun tak sanggup menahan duka itu. Ia pun menangis dan tak sanggup menahan air matanya. Maafkan aku Elena, aku terlambat, aku berdosa padamu. Selamat jalan sayang. Aku juga sangat menyayangimu. Semoga kamu lebih bahagia disana dan kuharap kamu mendengarkan suara hatiku.
PROFIL PENULIS
Penulis : Ardhian, S.Sos.
TTL : Kuala Tungkal, 25 Desember 1967.
Jenis Kelamin : Laki-laki
Status : Menikah dan mempunyai 2 Putri Yang Cantik-cantik
Pekerjaan : PNS di Pemkab Tanjung Jabung Barat - Jambi
Alamat : Jl. Cendana No. 45 RT. 17 BTN Manunggal I Kel. Tungkal II Kuala Tungkal Jambi.

Ditulis Oleh : Goresan Hati Hari: 14.54 Kategori:

0 komentar: