CERPEN TAK PERLU ADA HARI ESOK


Cerpen NN

Sore itu, diatas teras pembatas rumah ku duduk menghadap jalan raya dan bersandar di dinding. Kusandarkan kepala dan menengadah, ku terawangi senja yang perlahan beranjak seakan melambai padaku.

Dadaku sesak, seketika itu ingin rasanya berlari, mengayunkan tangan bagai mengepakkan sayap agar bisa terbang menghentikan senja yang berlalu meninggalkan ku, karena

ku tak ingin malam menjemput dan mendekapku dalam buaian mimpi-mimpi yang saat terbangun ku temukan diriku terluka karena memendam rasa ku.

Pikiran ku melayang saat kami sedang menyusuri gua berlumpur, licin dan terjal dengan penerangan headlamp yang dia kenakan. Bahkan harus melalui sungai yang agak dalam pada separuh lorong gua. Semantara aku tak bisa berenang, hanya modal keberanian dan mengandalkan tim tuk menaklukkan tantangan goa itu.

Tim kami yang berjumlah 9 orang terdiri dari 3 cewek dan 6 cowok, dua diantaranya leader dan sweeper. Kami mulai menapaki lereng goa mengikuti leader, aku berada pada posisi kedua dari terakhir, di depan kak Althaf yang saat itu sebagai sweeper dan di depan ku ada Assah. Aku berjalan dengan sangat hati-hati, tak jarang hampir terpelest hanya karena salah memilih pijakan kaki.

Teman-temanku jatuh silih berganti, kali ini aku yang terpeleset ketika menuruni tanjakan yang berlumpur, lalu terperosot dan kaki terbenam dalam lumpur hingga lutut. Semua teman yang di posisi depan sudah tidak terlihat karena belokan, ku menoleh ke kak Althaf, terlihat sedang mencoba mencari cara tuk menolong ku.

Rasa takut dan panik dah menyerang ku karena jurang menganga di hadapanq, tak ada tempat bertumpuh, hanya cengkraman ku di belakang yang membuat ku tertahan tak jatuh lebih dalam lagi. Kuteriaki Assah namun tak ada jawaban. Kak Althaf meminta ku tuk tenang dan tidak bergerak sedikt pun. Ku perhatikan dia yang sedang mengikatkan webing pada stalagtit lalu turun dan menarik ku ke atas. Ku sedikit lega bisa selamat tapi kaki ku terasa berat dan gemetaran tuk melangkah.

Aku diam saja menerawang menunggui kak Althaf melepas webing.
"Ayo jalan !" Dia melangkah, segera ku raih lengannya tuk pegangan karena takut terjatuh lagi. Dia pun tak keberatan, malah tersenyum ke arahku, melihat senyumnya, serasa semua ketakutan dan kepanikan ku tersapu bersih. Kami kembali melanjutkan penyusuran.Setelah melewati lorong gua yang terjal, terlihat Assah, Leader dan teman lainnya duduk di ujung lorong buntu. Kami mendekat, semua memperhatikan kami hingga sorotan headlamp menyilaukan mata kami.
"Ni, ada apa ?" Assah memberi kode. Aku pun menyadari tanganku masih melingkar di lengan kak Althaf. Buru-buru ku lepas dan menarik jarak.
"Tumben Thaf kau baik ma cewek, biasannya juga cuek, siapa sich dia ?" Celoteh salah seorang cewek setimku dengan dingin.

Kak Althaf memegang kedua pundakku "Ini adik ku. Namanya Nini. Anggota baru dengan Assah." Aku tersenyum kaku dan salah tingkah. Ku lihat Assah terbelalak mendengar pengakuan kak Althaf. Aku sendiri lumayan kaget dibuatnya.

Melihat kami semua diam leader mengangkat bicara menjelaskan bahwa untuk bisa keluar tanpa memutar arah kembali kami harus melewati sungai yang agak dalam di sebelah dinding itu, dia menyorot dinding, terlihat ada cela, tepatnya mungkin stalagtit yang sudah menyerupai dinding karena bagian bawahnya runcing dan masih meneteskan air. "Ada yang tidak bisa berenang ?" Tanya leader. Spontan aku acunkan tangan. "Ngakunya pecinta alam, berenang aja gak bisa. Apaan tuh ?!" Sindir cewek yang tadi. "Nini sama aku aja, jadi tak perlu dipermasalahkan." Kejengkelanku atas sindiran tadi hilang mendengar ucapan kak Althaf. Ku liahat dia mencibir.

Leader kembali memimpin kami melewati cela. Aku melewatinya mengikuti Assah dan disusul kak Althaf. Aku tinggal berdiri menyaksikan Assah melompat ke air dan berenang menyusuri sungai. "Turun !" Instruksi kak Althaf. Tapi aku masih tetap berdiam di tempat. Dia pun turun, kedalaman air masih sepinggangnya.

Aku ikut turun dengan ragu-ragu. "Pegang pundakku, ayungkan sebelah tanganmu dan kedua kakimu bersamaan !" Instruksinya setelah aku berdiri tepat di sampingnya. aku mengangguk lalu meletakkan tangan kiriku di pundak kanannya. kami pun mulai berenang. setelah beberapa menit berenang, kami berhenti. "Istirahat bentar !" Pintanya sambil mengarahkan ku berpegangan di dinding goa yang begitu licin, agar dia bisa rileks sejenak. "Eh, kak kok air bergelombang gini ?" Tanyaku heran merasakan hempasan air ke tubuhku. "Aku juga tidak tahu." jawabnya cuek. aku sedikit kesal. Semakin lama hempasan air makin keras hingga peganganku lepas. “Kaaaak...” Teriakku ketakutan dan mengepakkan tangan berusaha bertahan agar tidak tenggelam. berkali-kali ku menelan air. seketika Kak Althaf menarik lenganku, segera ku lingkarkan tanganku di lehernya saat bisa menjangkaunya. Dia berusahan menenangkan saat melihat ku sangat ketakutan. kemudia kami kembali melanjutkan penyusuran.

Cahaya penerangan kami melebur dengan cahaya tersebut, kami pun mulai berjalan karena air sudah agak dangkal, beberap langkah berikutnya sejajaran perut, sepangkal paha kemudian selutut, bahkan setumit. Namun karena jalanan sangat licin , aku masih berpegangan pada kak Althaf hingga kami bergabung kembali dengan tim. Lalu kami semua keluar dari jangkauan air. “Salam Lestari !” Sontak kami semua menoleh ke sumber suara yang tak jauh di belakang kami dan serentak menjawab “Tetap Lestari !’ “Fiz, punya berapa webing ?” Tanyanya setelah mematikan headlampnya. Terlihat jelas kak Syahran melempar senyum ke arah kami.

Dia salah seorang dari leader tim lain. “Ada dua. Kenapa ?” sahut leader. Baru kali ini aku tahu kalau dia disapa dengan Fiz. “Boleh ku pinjam ?” kak Syahran berjalan melewati ku. “Boleh, tuh ma Althaf.” Dia menghampiri kak Althaf. Tanpa kata kak Althaf menyodorkan webbing padanya. Dia menyondongkan muka ke dekat telinga kak Althaf lalu berbisik. “Apa gadis kecil ini merepotkan mu ?” bisikannya masih terdengar jelas oleh ku karena aku masih memegangi lengan kak Althaf.

Spontan ku layangkan tinju ke perutnya. Namun sebelum mendarat, dia segera menangkisnya lalu mmenjitak kepalaku. Aku meringis. “Siapa yang gadis kecil ?!” protes ku dengan cemberut dan meninggalkan mereka berdua. “Jiaah, gitu aja kok ngambek, memang kayak anak kecil beneran !” aku tak menghiraukannya lagi. “Fiz, thanks yach ! Thaf, tolong jagain ade’ ku!” ucapnya sedikit berteriak. “Baik kak.” Jawab kak Althaf. Kak Syahran meninggalkan kami, kemudian kami melanjutkan perjalanan. "Ma aku ngambek juga nich ?" Tanyanya agak berbisik di dekat telinga ku, lalu menyenggol ku. Aku tak menggubrisnya dan terus berusaha melewati bebatuan yg berlumpur. "Heeeih..." dia mencolek pipi ku. Ku rasakan lumpur menempel dr tangannya. Ku masìh tak menggubrisnya, ku bersihkan lumpur tersebut dengan lengan baju ku, seraya mempercepat langkah ku. Tanpa menyadari keberadaannya, tiba-tiba kedua tangannya yang berlumur lumpur telah menempel di pipi ku. Aku terhenti "Huaah rese' !!!" Ku raìh kedua lengannya. Dia terkekeh sambil mengolesi muka ku lumpur. "Ni, buat orang yang suka ngambek." Dia mengoleskannya ke suluruh muka ku. Ku dengar Assah cekikikan. Segerah ku tarik lengan kak Althaf yang masih menempel di muka hinggah menyanggah di pundak ku.

Tangan kanannya ku jabat tuk mengambil lumpur yg masih melekat, ku putar badan agar bisa melihatnya tanpa melepas peganganku pada lengan kirinya hingga posisinya setengah melingkar di leher ku. "Yang ini lulur tradisional biar kakak jadi lebih tampan." ku terkekeh dan terus melumuri muka serta lehernya.

Dia hanya pasrah menerima pembalasan ku. "Eh, liat tuh !" ku menengok ke arah yang kak Althaf maksud, terlihat semua teman kami juga ikut-ikutan ngolesin lumpur. Ku kembali menoleh ke Kak Althaf, sempat kami beradu pandang lalu tertawa terpingkal-pingkal melihat aksi mereka. Aku jadi tertawa sendiri mengingat hal tersebut, lalu tersentak saBottom of Format "Fly me to the moon" terdengar dari ponsel ku. K'Althaf is calling. Ku pandangi ponselku, aku ragu tuk menjawabnya.

Kedua kalinya ponselku berdering karena Kak Althaf. Aku masih belum menjawabnya. Ponselku kembali berdering, yang ketiga kalinya K'Althaf memanggil. Akhirnya aku pun menjawabnya. "Halo" dengan suara pelan dan sedikit gugup."Assalamu Alaikum !" Terdengar suara dari balik telepon. "Waalaikumussalam" Balas ku."Tolong temui aku ! sekarang ku di depan rumah mu." pintanya. Tanpa menunggu jawaban dari ku, telepon terputus.Ada sedikit ragu tuk menemuinya, setelah setahun menjauh dan menutup diri darinya. Air mataku menetes, segera ku hapus, dah terlalu banyak air mataku menetes karena menahan rindu yang menderaku.

Karena menyesal telah mengabaikannya selama ini. Karena telah mencoba mengubur rasaku padanya. Semua itu telah menguras air mataku. Namun akhirnya ku putuskan tuk menemuinya.Ku berjalan gontai ke luar, ku lihat dia berdiri di dekat mobil membelakangi gerbang. Ku himpun keberanian tuk menyapanya.“Hai kak !” dengan suara trbata-bata, tak percaya dia bener-benar menemui ku.“Ikut sebentar !” dia menarik lengan ku, menuntun ku masuk dalam mobil.Mobil terhenti di taman kota, dia berjalan menuju tempat duduk tepat di tengah taman. Sinaran lampu neon turut menambah keindahannya. Dia duduk, ku juga ikut duduk tepat di sebelahnya.“Ada apa kak ?” ku pecah kesunyian.“Apa ini ?” dia menyodorkan secarik kertas dengan coretan tangan yang tak asing buat ku. Tentunya karena itu tulisan tangan ku sendiri.

Aku ingin berharap lebih, lebih dari yang bisa dia berikan, lebih dari yang bisa ku jangkau. Adakah ini keserakahan ?! Tapi aku benar-benar ingin berharap lebih, jauh lebih dari keterbatasan ku. Namun terkadang seketika keinginan itu sirna hanya karena setitik keangkuhan. Tuk mengakui rasa untuknya.“Bukan apa-apa, hanya sekedar coretan, dapat dari mana ?” ku lipat kertas itu dan hendak memasukkannya dalam saku baju ku. Tapi segera ia rampas.“Tak penting.

Aku hanya berharap ini untuk ku.” Dia menggenggam kedua tangan ku dan menatap ku lekat-lekat. Ku hanya pandangi dia, mencari keseriausa atas ucapannya dan tak ku temukan keraguan di matanya, tapi aku yang ragu tuk mengakuinya. “Sungguh ! aku juga menginginkannya dan ini bukan keserakahan.” Lanjutnya meyakinkan ku. Ku masih terpaku menatapnya, tak terasa air mata ku meleleh hingga ia menyekanya. Aku tersentak dan kembali menyekanya. Tak satupun kata yang bisa ku ucapkan, ku hanya bisa menganggukkan kepala membenarkannya. Dia mengecup kening ku. Aku memeluknya dengan erat seakan tak ingin melepasnya. “Tak perlu ada hari esok, jika harus tanpa mu lagi” bisiknya dan mempererat dekapannya.

Ditulis Oleh : Goresan Hati Hari: 02.06 Kategori:

0 komentar: