CERPEN Bunuh Diri


Penulis: Zahriyah Inayati


Akhirnya, di sinilah aku akan berakhir. Menutup semua episode hidupku, kalau masih bisa dikatakan hidup. Di sini, di lantai paling atas salah satu dari sekian ratus gedung pencakar langit di kota metropolitan, Jakarta. .Kuhirup udara malam sepuas-puasnya untuk yang terakhir kali, lalu aku pun menggigil kedinginan. Jika saja ini adalah sebuah pertunjukan teater maka inilah adegan terakhir yang paling dramatis, saat  para penonton akan menahan nafasnya karena menyaksikan sang tokoh utama akan mengakhiri hidupnya.
“Ha..ha..ha..ha..!” tawaku keras membahana. Akulah tokoh utamanya, tapi di sini tidak ada seorang penonton pun. Paling tidak keluargaku harus mendukung dan menyorakiku. Paling tidak ayahku. Bukankah dia yang mempunyai andil besar dalam hal ini?
Aku terus saja tertawa, menertawakan takdir yang telah digariskan kepadaku. Aku adalah anak yang tidak diinginkan. Sudah terlalu sering Papa meneriakkan kata-kata “bodoh” atau “anak tak tahu diuntung” atau “lihat saja abangmu yang lebih pintar” sampai-sampai kata-kata itu mengendap di dalam hatiku. Endapan itu semakin lama semakin banyak dan mengeruh sehingga membuatku perih.
Entah karena aku yang terlalu bloon atau kakak semata wayang yang hanya terpaut tiga tahun di atasku, Mas Seno yang terlalu pintar sehingga aku selalu menjadi yang nomor dua dalam segala hal. Mas Seno yang selalu juara kelas, Mas Seno yang penurut, Mas Seno yang bisa merebut perhatian semua orang termasuk Papa dan Mama dan aku yang selalu hidup dibalik bayang-bayang Mas Seno.
Mas Seno… Mas Seno… Aku tahu selama ini kau diam-diam mengkhawatirkan keadaanku. Selalu pulang malam, mabuk-mabukan, dan yang membuatkmu shock adalah apa yang kau temukan di kamarku kemarin. Ya! Aku terjerumus narkoba. Dan itu bukannya membuat Papa sadar telah menelantarkan aku, tapi malah cacian dan makian yang kudapat. Aku memang sampah dan Mas Seno adalah berlian. Sebuah berlian harus selalu diasah dan dijaga sedangkan sampah harus dibuang dan dilupakan.
Bah!! Kukira cerita melodramatis seperti ini hanya ada di sinetron atau novel-novel picisan. Sulit dipercaya hal ini bisa terjadi padaku. Benar-benar nyata. Nyata benar ketidakadilan ini menari-nari di depan mataku, dan nyata benar rasa sakit yang kurasakan saat ini. Rasa sakit karena telah dilupakan…
Kadang-kadang aku berpikir mungkin ortuku menyesal pernah melahirkan aku ke dunia ini, karena sampai sekarang tidak ada yang bisa aku lakukan selain menjadi beban keluarga. Sering aku juga berpikir mungkin aku bukan anak kandung mereka karena mereka sama sekali tidak memperhatikan pendidikan, pergaulan, dan apakah hari ini aku sudah makan atau belum. Mereka sama sekali tidak peduli! Yang peduli padaku hanyalah obat-obat laknat itu. Obat-obatan itu lumayan bisa menghilangkan stres. Tapi hanya untuk sementara waktu. Karena itulah aku bunuh diri, karena bunuh diri bisa menghilangkan stres untuk selama lamanya.
Perjalanan hidupku mengingatkanku pada The Dead Society. Aku seperti Todd Anderson dalam film tersebut yang dilupakan keluarganya. Namun, bagaimana hidupku akan berakhir lebih mirip dengan Neil Perry yang bunuh diri dengan menembakkan pistol ke kepalanya sendiri. Ya! Carpe diem! Raihlah kebebasan! Dan kebebasan itu hanya bisa kuraih dengan melepaskan diri dari hidup yang tiada berharga ini. Dengan mengakhiri hidupku maka aku akan bebas dari rasa sakit. Berbagai cara telah kupikirkan bagaimana aku mengakhiri hidupku dengan aman dan nyaman. Racun sianida akan bisa membunuhku dalam sekejap namun seluruh tubuhku akan berubah warna menjadi kebiru-biruan, dan itu sangat tidak enak untuk dilihat. Menenggak baygon, apalagi. Itu adalah cara bunuh diri paling menyedihkan bagi orang menengah ke bawah karena selain rasanya pahit, sakitnya juga akan terasa lebih lama. Menabrakkan diri di tengah jalan? Ya kalau mati. Kalau akhirnya selamat maka seluruh tulangku hancur dan bisa jadi aku akan menghabiskan sisa hidupku dalam keadaan cacat atau lumpuh. Memotong nadi juga tidak akan aku lakukan karena aku akan dikenang orang sebagai seorang junkies. Jadi menurutku, melompat dari gedung tinggi adalah cara yang terbaik. Selain prosesnya cepat, kemungkinan matinya adalah 99,9 persen. Dan kupikir cara itu terlihat lebih dramatis dan kalau mujur bisa masuk headline koran lokal.
Hah! Lucu. Lucu sekali...!
Tertawa menyeringai aku memikirkannya. Tawaku makin keras sampai air mataku keluar kemudian berhenti karena kelelahan. Sekarang berganti dengan sebuah tangis mengiris. Gawat! Jangan-jangan aku terkena skizophrenia. Persetan! Toh sebentar lagi aku juga akan mati, siapa yang peduli aku sakit jiwa atau sakit kudisan. Lagian, ngapain aku menghabiskan banyak waktu di sini? Kenapa tidak segera kulaksanakan hajatku saja malah mengingat masa lalu yang bila mengingatnya saja membuatku pening? Ya...tinggal loncat saja dari gedung ini dan semuanya akan beres.
Aku berdiri lalu memandang ke bawah. Nyaliku mulai menciut melihat lalu-lintas dan mobil-mobil yang menyemut di bawah sana. Aku mulai mereka-reka di mana nantinya aku akan jatuh, apakah di atas mobil atau jalan raya atau yang lebih gawat lagi menimpa seseorang? Duh...aku tidak mau menyusahkan orang lain di saat-saat terakhir hidupku. Ah, kenapa berpikir sejauh itu? Aku yakin hatiku sudah mantap. Tekadku sudah bulat. Aku sudah berdiri di sini dan aku takkan mundur. Aku mulai memejamkan mataku. Inilah saatnya. Kurentangkan tanganku lebar-lebar. Malaikat maut, jemputlah aku. Untuk terakhir kalinya aku menghirup nafas. Dalam…
“Mas, Mas…!”
Tiba-tiba saja aku mendengar suara. Suara malaikatkah? Oh, cepat sekali responnya padahal aku belum juga terjun. Tapi, tunggu dulu… kenapa suara malaikat medok begitu? Jangan-jangan...

“Mas!!!” Suara itu datang lagi. Kali ini lebih keras bahkan seperti membentak. Aku membuka mataku lalu menoleh. Astaga! Seorang laki-laki berusia antara empat puluh dan lima puluh tahun dengan blangkon di kepalanya dan baju super lusuh berdiri di sampingku. Aku kaget setengah mati. Dari mana datangnya manusia ini? Huh.. mengganggu acara orang saja! Aku kembali terduduk dengan nafas agak tersengal-sengal diliputi oleh rasa yang aneh dan sedikit rasa takut. Entah kenapa ada sedikit kelegaan ketika mengetahui aku masih bisa bernafas.
“Kamu siapa?” tanyaku sengit.
“Maap, Mas. Nama saya Narto,” katanya sopan. Jelas sekali dia asli Jawa.
“Narto siapa dan mau apa?” kataku masih sengit dan terengah-engah mengatur nafas.
“Saya Narto dari Pati. Tujuan saya ke sini mau bunuh diri juga, seperti Mas,” jawabnya polos sambil ikut duduk di sebelahku.
“Hah!” Aku tidak percaya ini. Bagaimana mungkin dua orang yang mau bunuh diri dipertemukan di tempat yang sama dan dalam waktu yang sama pula? Permainan nasib apa ini? Sungguh aneh, sungguh ajaib.
“Kenapa mau bunuh diri? Emang nggak ada tempat bunuh diri yang lain apa?”
Tiba-tiba wajahnya terlihat murung. Suasana senyap beberapa saat. Aku merasa tidak enak. Pastilah Narto ke sini karena alasan yang jelas seperti aku. Jelas ketika seseorang ingin bunuh diri pasti didorong oleh kondisi yang menyedihkan, yang mungkin sudah tidak mungkin ditanggung lagi oleh sebuah kata bernama kesabaran. Aku tidak boleh meremehkannya. Malam semakin menjadi. Kulirik Alba di tangan kiriku, pukul 23.45. Duh, kapan mulai bunuh dirinya nih?
“Saya ini orang desa, Mas," suaranya lirih hampir tak terdengar, “saya benar-benar pantas untuk mati. Saya tidak bisa kembali ke desa saya lagi. Saya malu…”
Narto terisak, bahunya bergetar. Dikeluarkannya sapu tangan lusuh dari balik saku baju untuk menyeka air matanya. Tangisan Narto menyadarkanku. Emosi yang tadinya meluap-luap terasa mencair oleh tangisannya. Aku begitu terenyuh melihatnya. Beban hidupnya tentu sangatlah besar. Bingung aku menghadapinya sehingga kata yang kuucap hanyalah...
“Sabar, Pak,” entah kekuatan apa yang mendorongku mengucapkan kalimat itu, “coba ceritakan apa yang menimpa Pak Narto… siapa tahu saya bisa membantu.” Aku sendiri tidak yakin oleh ucapanku sendiri, tapi yang jelas aku ingin sekali menghiburnya. Aku merasa senasib sepenanggungan dengannya, dan bahkan sekarang aku menaruh hormat padanya.
Narto terpana menatapku seakan tak percaya. Namun tak urung dia menceritakan kisah hidupnya yang memilukan.
“Saya punya seorang istri dan lima orang anak, yang mbarep kira-kira seumuran sama Mas ini,” katanya sambil mengarahkan ibu jarinya ke arahku dengan sopan, aku menganguk dan mendengarkan dengan penuh perhatian, “tapi kami orang desa yang miskinnya udah ndak ketulungan lagi, Mas, cuma bisa mengandalkan sawah untuk hidup, itu pun sawah orang lain yang saya garap lalu waktu panen hasilnya dibagi dua. Woalaah.. mana cukup hasil yang cuma sakjimpit itu buat makan dan sekolah anak-anak saya...” Narto menggeleng lesu, kemudian menarik napas panjang seakan ingin mengeluarkan semua beban hidupnya. Matanya nanar menatap ke depan seperti berusaha mengingat-ingat serpihan-serpihan kisah hidup di masa lalunya.
Lalu lanjutnya,
“Lalu saya tergoda untuk ikut mengadu nasib di Jakarta ini. Katanya sih, orang yang merantau ke Jakarta bisa sukses, bisa bawa uang banyak kalau pulang. Lagipula rezeki Gusti Allah itu bisa di mana saja, lalu apa salahnya kalau saya coba nyari siapa tahu rezeki saya memang di Jakarta. Berbekal uang lima puluh ribu rupiah saya pun nekad berangkat meninggalkan istri dan lima anak saya. Tapi sesampainya di sini…”
Ia berhenti,
“Bagaimana?” tanyaku penasaran. Sesaat aku terlena oleh cerita Narto sampai melupakan tujuan sebenarnya aku datang ke atas sini.
“Sesampainya di sini saya bingung mesti ngapain. Mau kerja apa kalau cuma punya ijazah es em pe? Mau numpang di tempat siapa wong saudara saja ndak punya..” katanya dengan suara getir.
“Sejak itu saya kerja serabutan. Awalnya jadi kuli bangunan dan tinggal bersama seorang kenalan sesama kuli. Tapi hasilnya…jangankan duitnya dikumpulin buat keluarga di desa, wong buat hidup saya sendiri saja ndak cukup kok. Saya betul-betul ndak nyangka lho, Mas, kalau hidup di Jakarta itu ternyata mahal. Karena itu kemudian saya nyambi jualan es campur keliling. Tapi memang dasar lagi apes, gerobak es saya kesrempet sebuah mobil sedan lalu jatuh di Kali Ciliwung. Untung saya ndak kenapa-kenapa meskipun gerobak es saya sudah ancur dan ndak bisa jualan lagi.”
“Selama lima tahun itu saya kerja serabutan, dari menjadi tukang semir sepatu, tukang sapu stasiun, ngamen, pokoknya apa saja asalkan halal. Entah bagaimana nasib istri dan kelima anak saya, si Bejo, Parno, Endang, Jono, dan si bungsu Beno yang waktu saya tinggalkan umurnya masih delapan bulan. Entah bagaimana istri saya menghidupi anak-anak sendirian, entah apakah mereka tetap sekolah atau tidak. Jangankan bawa uang kembali ke kampung halaman, wong buat ongkos pulang saja saya ndak punya...” suaranya pasrah.
“Saya ndak punya muka untuk bisa pulang lagi. Hidup di Jakarta pun saya sudah ndak sanggup. Lebih baik saya mati saja.. tidak ada gunanya lagi saya hidup…!” Narto berteriak, namun Jakarta yang sombong sama sekali tak peduli dengan teriakan protesnya.
Aku meletakkan tanganku ke bahunya. Mencoba mengalirkan sekadar rasa empati yang tulus, mencoba meredam emosi Narto yang sedang meluap dan mencoba meyakinkannya bahwa ada seorang teman, yang meski namakupun dia belum tahu, ada di sampingnya dan peduli padanya.
Tiba-tiba saja aku merasa malu. Aku merasa sangat egois. Aku mengira bahwa akulah orang yang paling malang di dunia ini, yang telah disisihkan dari keluarga, yang telah diperlakukan bagaikan anak tiri dan melalui hari-hariku yang suram. Tapi ternyata masalah yang menimpaku itu tidak apa-apanya sama sekali bila dibandingkan dengan masalah yang dihadapi oleh orang tua yang kini sedang duduk di ssampingku. Menunduk… dan sesekali masih terdengar isak tangisnya.
Narto sama sekali tidak memikirkan dirinya sendiri. Di pundaknya ada sejuta beban yang begitu berat yang sepertinya dia tidak sanggup lagi untuk dipikulnya. Aku merasa konyol sekali karena tidak tahu sebenarnya untuk apa aku mengakhiri hidupku yang tidak berguna selain memikirikan sedikit kemalangan yang tengah menimpaku. Sungguh bunuh diri Narto jauh lebih elite daripada bunuh diriku. Narto telah mengisi hidupnya dengan berjuang habis-habisan demi keluarganya. Dia tidak menyerah pada nasib tapi telah berusaha keras untuk mengubahnya. Sedang aku? Aku mengisi hidupku dengan penyesalan, dengan gerutuan dan penuh kecurigaan apakah aku sebenarnya anak kandung atau anak tiri? Persetan dengan semua itu!! Entah dari mana, sekarang timbul sebuh tekad dalam diriku bahwa aku harus mengisi sisa hidupku ini dengan sesuatu. sebagai bekal saat aku mati.. Lalu sebuah pikiran yang mengerikan melintas di kepalaku. Setelah aku sukses meloncat dari gedung ini dan mati, maka akan masuk ke surga atau nerakakah aku nanti mengingat sekarang shalat lima waktu pun aku masih bolong-bolong. Seperti ada sebuah bel berdering di kepalaku. Ah.. sebuah kesadaran? Atau peringatan? Kupandangi sesosok tubuh lusuh di sampingku. Untuk inikah Tuhan mengirimkannya untukku?
Aku tidak bisa tinggal diam. Aku harus berbuat sesuatu untuk menolongnya.
“Tadi kata Bapak rezeki Allah itu sangat luas. Tapi kenapa sekarang Pak Narto menyerah untuk tetap berusaha mencarinya?” kataku lembut, berusaha menyelami hatinya yang sedang resah.
Narto mengangkat kepalanya, berusaha keras ia menemukan jawabannya. Lalu ia menunduk lagi dan meneggelengkan kepalanya pasrah,
“Saya ndak tahu. Tiap hari selama lima tahun ini, bukannya mengumpulkan uang buat keluarga, tapi saya malah menumpuk utang di sana-sini. Hidup pun seperti tidak hidup. Tiap malam saya tidak tahu mesti tidur di mana dan apakah besok bisa makan atau tidak.. Ditambah lagi saya selalu teringat akan anak dan istri yang menanti di rumah. Saya ndak bisa mikir apa-apa lagi selain mati saja. Saya hanya…” Narto tidak bisa lagi melanjutkan kata-katanya.
“…emosi sesaat,” aku menimpali. Aku mengerti apa yang ia rasakan karena aku pun merasakan hal yang sama.
“Apa?!” Narto tersentak seperti baru sadar akan sesuatu.
“Dengar..” kataku tanpa mempedulikan raut muka Narto yang masih tercenung, Sepertinya kami berdua telah kembali ke dunia nyata. Dunia yang sebenarnya kami benci. Aku pun mulai bisa berpikir rasional. Semua masalah pasti bisa diselesaikan, “Saya akan membantu Bapak,” kataku mantap.
“Maksudnya?” Narto masih tak mengerti.
“Saya akan mengusahakan Bapak bekerja jadi karyawan di perusahaan ayah saya. Meskipun gajinya tidak begitu banyak, tapi yah...minimal Bapak bisa hidup layak  dan sedikit demi sedikit bisa melunasi utang Bapak. Kalau ditolak, saya akan mengusahakan Bapak bisa bekerja di rumah saya saja jadi tukang kebun atau sopir dengan gaji yang lumayan. Pokoknya saya akan bicara sama Papa. Mengenai anak dan istri Bapak…” kalimatku terhenti karena Narto telah menubruk memelukku dengan erat sambil terisak dan berkali-kali mengucapkan kata terima kasih.
Aku terharu. Ada perasaan bahagia menelusup di hatiku. Oh.. inikah rasanya menolong seseorang? Seperti mendapat sebuahu pencerahan. Yah, meskipun belum terbukti nyata tapi aku bertekad dalam hati untuk menolong Narto. Perlu usaha yang keras untuk meyakinkan Papa yang sudah tidak memandangku. Tapi tidak apa-apa. Toh perbuatanku ini akan membuat Papa bangga mempunyai seorang anak seperti aku yang tidak hanya bisa menghamburkan uang. Aku akan membuat Papa, Mama, dan Mas Seno tidak menyesal mempunyai anak dan adik seperti aku. Aku akan buktikan kalau aku bukanlah sampah, namun berlian seperti halnya Mas Seno yang belum terasah saja.
“Tapi, Mas,” tiba-tiba Narto teringat sesuatu, “Bagaimana dengan bunuh diri Mas? Apa ditunda saja?”
Aku tersenyum kecut mendengar ucapannya yang polos. Bagaimana mungkin aku masih berminat untuk bunuh diri setelah apa yang kualami malam ini?
“Nanti kita pikirkan lagi,” jawabku akhirnya.
“Ngomong-ngomong kenapa Mas bunuh diri? Kata Pak Kyai dulu waktu saya masih di kampung kalau kita bunuh diri nanti bisa masuk neraka lho, Mas.”
Aku merenungi ucapannya. Terjawab sudah pertanyaanku.
Kembali aku teringat The Dead Poets Society. Kebebasan tak akan aku raih dengan bunuh diri. Karena dengan bunuh diri, bukannya bebas, ee.. malah bisa masuk bui paling mengerikan yang mustahil akan bisa keluar, neraka. Hii!! Selama aku masih hidup, meski tadi sempat bercanda dengan maut aku masih punya kebebasan. Carpe diem!! Raihlah kebebasan. Ya, mumpung aku masih hidup aku masih punya kebebasan memilih bagaimana hidupku berakhir dan memutuskan di mana nantinya setelah aku mati, di surga atau neraka? Sebuah konsep sangat sederhana yang orang paling bejat seperti aku pun bisa memahaminya.
“Ehm.. saya bunuh diri untuk alasan yang tidak terlalu penting kok,” aku malu mengatakan alasan mengapa aku bunuh diri karena mungkin akan terdengar sangat cengeng, . “Saya hanya sedang kesal. Saya hanya…”
“…emosi sesaat,” kata Narto meniru ucapanku.
Kami berdua tertawa lepas. Menertawai sebuah adegan yang seharusnya berlangsung tragis tapi malah berakhir seperti sebuah komedi konyol namun mengharukan.
Aku bangkit. Narto juga ikut bangkit. Kami berdua memang harus bangkit dari penderitaan untuk kemudian berjuang dan bukannya menyerah sampai di sini. Kami saling memandang satu sama lain kemudian tersenyum penuh makna. Berdua kami berjalan menuju tangga. Aku ingin cepat-cepat sampai di bawah. Back to the earth. Berdiri di atas sini terasa menakutkan, sarat dengan aroma kematian. Kami berdua tahu bunuh diri adalah jalan pintas tercepat untuk sampai ke lantai bawah namun kami berdua lebih memilih menggunakan tangga saja. Sepertinya lebih aman.
Kembali kulirik arloji di tanganku. Pukul 04.15. Sayup-sayup terdengar suara azan dari masjid di seberang jalan. Sudah waktunya shalat subuh…
Yogyakarta, Oktober 2006
Catatan:
Skizophrenia: penyakit jiwa.
Mbarep       : sulung
Ndak          : tidak
Ketulungan : tertolong
Sakjimpit    : sedikit




Ditulis Oleh : Goresan Hati Hari: 14.53 Kategori:

0 komentar: