Puisi Cinta Romantis oleh Ramadhan Al Fatih

Kumpulan puisi cinta romantis berikut ini merupakan kiriman dari Ramadhan Al Fatih. Ini merupakan kiriman keduanya di gen22.net. Kiriman puisi sebelumnya bisa dilihat dalam artikel Puisi-Puisi Ramadhan Al Fatih.

" Aku Dan Mencintaimu "
by " Ramadhan Al Fatih "

Aku
tak perlu sayap-sayap Gibran untuk terbang kehatimu,
tak juga harus kugapai kekhusyukan Rumi
untuk menyentuh kalbumu.

Aku tak perlu menggapai terangnya keberanian Napolleon untuk memerangi kesendirianmu,
tak juga perlu kumiliki kemilau mahkota cleopatra untuk melingkari ingatanmu.

Dan untuk menuju lorong pikaranmu,aku pun tak perlu menyusuri rongga hira,bahkan dalamnya nil pun tak perlu kutahu untuk merasuki khayalanmu.

Karena aku akan menuju kehatimu sebagai diriku sendiri dan dengan diriku sendiri beserta segala apa adanya.


" Bagaimana Kau Tahu Kekasihmu Mencintaimu? "
by " Ramadhan Al Fatih "

Puisi Cinta Romantis
Apa ketika ia berbisik lirih kepadamu,sembari berkata;

Aku mencintaimu.

Atau apa saat ia mendendangkan lagu-lagu tentang cinta
yang memabukan?.

Lalu bagaimana kau tahu kedalaman kasih sayangnya?

Apa ketika di malam yang
di taburi bintang-bintang ia memberimu kalung permata,
dengan lembut memasangkanya di lehermu
dan secara perlahan
ia mengecup bibirmu?.

Dan bagaimana kau tahu seberapa kuat ia memilikimu,
yang tak mengenal usia dan lebih panjang cintanya dari pada hidupnya?

Apakah ketika ia mengajakmu menari di atas permadani,lalu melesatkan imajinasimu?

Jika aku,
aku tahu kekasihku mencintaiku ketika ia mengingatkanku dari rayuan nafsu dan ketika ia menyertakan namaku dalam doa dan akhlaqnya.

Aku tahu kekasihku menyayangiku,ketika ia membalut imanku lebih kuat bahkan dari kelalaianya sendiri.

Ia menyayangiku dan memberiku nasehat,
menjaga dari fitnah.
Dan cintanya yg tinggi terlihat saat ia menjaga aurat
dan menyembunyikan hatinya.


" Cinta Kerendahan Hati "
by " Ramadhan Al Fatih "

Engkau tak pantas mencintaiku,karena ;

Aku hanyalah seorang penggembala yang tak memiliki tempat bermukim.
Domba-dombaku pun
tak terhitung banyaknya.

Diantaranya ada yang berlarian menuju pesisir pantai dan setiap harinya ada yang mengandung juga melahirkan.

Simpanlah cintamu,
selipkanlah di antara tumpukan sajadah dan kain rukuh
dalam peti besarmu.

Bukan karena aku tak mampu memunajatkan cintamu,namun aku hanyalah terumbu yang gelisah di waktu benderang bercengkrama.

Bahkan saat kentalnya tinta
sang penyair agung tumpah,
aku malah berlarian tanpa henti kesemua penjuru.

Pergilah ! Carilah belahan hati yang lain,yang tenang jiwanya seperti kehangatan telur merpati. Persembahkanlah cintamu padanya,yang memiliki istana
dan suaranya menaungi para peternak di utara hingga
kaum-kaum terasing di selatan.

Semogaa hidupmu akan mulia dan cintamu yang membentang akan menjadi peneduh para Musyafir yang kehilangan untanya.

Dan demikianlah aku akan berlarian membuntutimu serta mengkhayalkan cintamu.


" Aku Ingin Mencintaimu,
Karena...? "
by " Ramadhan Al Fatih "

Kau tak perlu mendaki
puncak gunung-gunung
untuk menunjukan tingginya cintamu padaku,

karena aku mendengar apa yang tersembunyi pada kedalaman hati dan apa yang kulihat bukan sebagaimana mata mengukurnya.

Kau melihat betapa tingginya elang menabrak pagar angkasa,
sedangkan hatimu yang sesungguhnya mampu bersarang pada halamannya.

Berikanlah sepenuh hatimu padaku,seperti udara kau hirup tanpa berfikir mencicipi rasanya.

Cintamu yang sebenarnya bermukim dalam hatimu,
dimana kau menemukan
wajah-wajah malu
dan pemberani.

Ketika kita berdiri bersama
ada kebenaran nilai-nilai telanjang tak mampu kita lihat. Bukan batas-batas yang tergapai oleh sayap pikiran.


" Tentang Anak-Anak Kita Sekarang Atau Nanti.
by " Ramadhan Al Fatih "

Bukan hanya sekedar Adzan
dan Iqamat yang kau gemakan
di kedua telinganya saat ia lahir. Karena ia akan lebih kuat terpanggil oleh tutur dan perbuatanmu.

Bawalah anak-anakmu pada riuhnya malam dan kosongnya siang,
bukan sekedar kau tunjukan ayunya rembulan dan gagahnya matahari.

Tapi ajarilah ia menjadi seperti ;
Rembulan yang tak pernah lari menghadapi malam sebagai lawan tangguhnya
dan
menjadi matahari terang namun tak pernah luntur terbakar.

Bimbing dan tuntunlah
anak-anakmu seperti kau memanaskan sebuah besi untuk mengkaryakanya.
Jagalah anak-anakmu bahkan dari kegilaanmu sendiri.

Anak-anakmu bukan hanya sekedar menjadi bakal pewarismu,tapi
anak-anakmulah tunas, batang, ranting dan manisnya
doa bagimu.

Anak-anakmulah pengamat yang paling tinggi tahtanya,di bandingkan pengamat-pengamat yang lain dalam dunia.
Kelak anak-anakmulah yang akan menjadi rapuh atau kokohnya tiang penyangga keluarga,namun
berhati-hatilah karena
anak-anakmulah yang bisa menjadi ahli bagi
lawan dalam medan hidupmu.


sumber

Ditulis Oleh : Goresan Hati Hari: 11.01 Kategori:

0 komentar: