CERPEN KAGUMKU SELANGIT

Oleh: Jovian Andreas (JAJ) 
Suatu kertas puisi cinta yang disebut picisan itu akhirnya disimak lagi. Kenangan indah kalau diangkat lagi memang jadi mengharukan. Mengapa ada cinta yang disia-siakan? Mengapa dibiarkan pernyataan baik itu yang pernah dibalas dengan sikap arogan, yang akhirnya disesali. Dibenci sikap jahatnya itu pada laki-laki yang sebetulnya tampan namun karena dituding bukan levelnya, laki-laki itu jadi berkata tak akan bertemu dengannya lagi, pada detik itu. Laki-laki itu sudah menerima permintaan Omnya untuk tak akan ke rumah lagi hanya demi Meli... Oh, Meli, kau ini bodoh banget! Kau ini norak! Kau ini sombong! Kau sangat materialistis! Jadilah kamu perempuan sial! Ah.., begitulah yang dipikirkan Amelia Febrianti, yang melihat foto Heryadi, laki-laki yang pernah jatuh hati padanya sepuluh tahun yang lalu.

               Sekarang usia Amelia, 27 tahun, dan Heryadi, 30 tahun. Amelia sudah pernah menikah sebelum tahun 2000 dan ketika itu usainya 20 tahun. Yah, tepatnya dia kelahiran 1979. Dia sangat ingat perkenalannya dengan Heryadi yang suka berkarya di sanggar sebagai sutradara. Dia tahu juga semangat Heryadi walau organisasinya itu tak menguntungkan atau memberinya penghasilan. Dan ketika itu Amelia yang pernah jadi anggota teater di SMA memilih keluar dan mau jadi pemain sinetron, figuran. Sementara Heryadi tetap bergerak di teater dari festival drama remaja, lomba baca puisi, menulis skenario dan yang lain jadi pelatih futsal di sekolah yang dikelola orang tua temannya.
               Heryadi memang bukan anak orang berada, dia tinggal di jalan MHT di wilayah padat di Jakarta Barat. Heryadi menaruh hati pada Amelia, lewat bantuan teman sebaya Amelia ketika itu untuk jadi comblang baginya. Tetapi mengapa Heryadi tidak berani mengungkapkannya, hanya karena Heryadi mempunyai saingan dari temannya yang lebih dipahami Amelia. Temannya itu Ronny. Teman Heryadi ini membawa Azrul yang ternyata genit dan ingin mendapatkan hati Amelia. Akhirnya Heryadi jadi jaga jarak dengan Ronny dan memutuskan membangun sanggar baru di luar sekolah. Ronny tetap bertahan dan mengajak Azrul yang memang teman di kampusnya masuk poduction House dan Melly diajak jadi pemain sinetron sebagai figuran saja. Ronny bernasib baik menjadi asisten sutradara di production house mendampingi sutradara senior.
               Nah kenapa Heryadi merasa bersaing dengan Ronny, alasannya adalah Heryadi punya niat mengadakan pementasan kolosal : Ken Arok yang ternyata disudutkan Ronny bahwa ide itu tak akan terjadi. Heryadi jadi benci Ronny. Heryadi juga benci pada Amelia yang malah berani bilang: "Gue nggak suka sama elo!" Suatu pernyataan yang mengecewakan di masa itu, dan Amelia jadi sedih telah membuat hati Heryadi, jadi sakit hati.
               Heryadi dengan teater barunya malah berhasil meraih piala sebagai grup terbaik. Heryadi tetap punya pendirian hingga di era runtuhnyha orde baru terlibat pula dalam demonstrasi. Heryadi tetap bujangan. Dan masa mudanya itu tetap putih dan tidak seperti Azrul. Karena laki-laki yang menyukai Amelia itu, berani main api, selingkuh dengan perempuan yang mau jadi artis hingga hamil. Dan inilah yang membuat Amelia kagum pada Heryadi.
               Heryadi juga dipuji Amelia ketika dia datang ke rumah Amelia sambil mengabarkan kalau dia sudah lulus menjadi sarjana. Bayangkan, keputusan untuk tidak mendekati Amelia, dimohonkan maaf oleh Heryadi dengan pernyataan kepada Om Amelia, Safri, kalau dia kakak kelas Amelia yang ingin dilihat Amelia menjadi sarjana. Dan Amelia menjadi trenyuh. Dia saja tidak bisa menyelesaikan kuliah karena keputusannya sendiri. Begitu juga Om Safri yang pernah meminta Heryadi jauhi Amelia, sudah tidak bisa bekerja lagi akrena kecelakaan, hanya bilang kepada Amelia : "Coba kamu jadi sama laki-laki itu, Mel... Dia baik!"
               Amelia sangat sedih. Dan waktu terus bergerak, setiap kabar Heryadi malah membuat Amelia semakin kagum padanya. Heryadi bekerja di production house pula seperti Ronny yang mana perusahaaan itu membuat film layar lebar serta rekaman film asing. Wah, membuat Amelia jadi trenyuh. Amelia yang sudah punya anak hasil hubungan gelapnya dengan teman kuliahnya itu hingga diusir bapaknya, kini menjadi manusia yang merasa telah membunuh karakternya sendiri. Dia ingin berubah sebagai manuisa yang punya masa depan, punya rancangan atau prinsip hidup dan punya cinta pada laki-laki sebaik Heryadi.
               Namun sayangnya Heryadi yang pernah menulis puisi untuknya berjudul Kagumku Selangit, sudah semakin sulit menjadi miliknya. Heryadi sudah meminang seorang gadis yang sederhana, tetangganya yang memang pantas buat Heryadi. Amelia tinggal berkata," Oh Tuhan, andainya hati Heryadi masih ada untukku biarlah dia datang padaku, walau hanya sebentar mengucapkan salam padaku.."
               Tentunya Amelia tidak bisa bertemu Heryadi. Amelia hanya bisa memandangi foto masa SMAnya itu. Di mana Heryadi yang pernah jadi sutradara teater dan pernah dihina temannya itu, kini sudah menjadi laki-laki dewasa. Amelia hanya bisa menulis di buku hariannya : I Love You Heryadi.. God Bless You ..
*****

Jakarta, November 2011
Penulis : Jovian Andreas
Email : Jovisca_2@yahoo.co.id

Ditulis Oleh : Goresan Hati Hari: 08.13 Kategori:

0 komentar: