Dalam Diam



Selama ini aku diam. 
Tanpa kata dan tanpa tindakan. 
Aku diam dan diam. 
Tapi diamku bukan berarti aku mati. 
Mati tak punya hati, 
mati tak punya suara, 
mati tak punya rasa. Bukan! 

Aku diam dalam ego pribadi dan berjalan dalam fikir. 
Aku belajar. 
Aku belajar dengan kehidupan. 
Sehingga, Aku mulai mengerti 
diam tidak satu-satunya jalan yang tepat. 
Diam bukan jalan menyelesaikan suatu masalah. 
Diam bukan suatu hak paten yang benar. 

Aku terus berjalan dalam diam. 
Namun diamku 
bukan membiarkan yang tidak seharusnya didiamkan. 
Aku masih berjalan, namun masih juga dalam diam.

Tapi aku tidak akan membiarkan aku didiamkan oleh sejarah.
Aku akan bergerak menuliskan tinta untuk mengukir diriku 
pada sejarah kalau aku pernah ada. 
Aku akan mengukir apa yang telah aku pelajari dalam diamku. 
Aku akan mengukir apa makna diam. 
Aku akan mengukir dari mana aku belajar diam. 
Aku akan mengukir kenapa 
dan saat apa harus diam. 
Aku akan mengukir sikap yang harus didiamkan.

Diamkan sesuatu yang membuat engkau hina dimata-Nya.
Diamkan sesuatu yan membuat engkau marah. 
Diamkan sesuatu yang membuat perpecahan. 
Diamkan sesuatu yang membuat runtuhnya kerukunan. 
Diamkan sesuatu yang menjerumuskan dalam nista. 
Diamkan sesuatu yang menjadikan penghalang dalam benar. Diamkan sesuatu yang menjadikan jurang didepan kita. 
Diamkan semua!!

Langkahkan kaki menuju agenda baru. 
Tetapkan hati dalam tulus dan ikhlas, 
buang sifat kotor hati. 
Fokuskan fikir, 
tancapkan niat yang kuat. 

Semua menyatu dalam gerak satu. 
Gerak perubahan. 
Perubahan kebaikan. 
Perubahan kebenaran. 
Menuju prestasi-prestasi gemilang. 
Menyongsong kehidupan yang penuh kasih dalam naugan-Nya.

Namun, meski demikian, 
kedengkian tidak akan tinggal diam. 
Masih mengusik tidak terima. 
Maka tinggalkan kedengkian. 
Ganti dengan senyum kasih penuh maaf. SALAM CINTAKASIH.

Pengirim : FILAN 

Ditulis Oleh : Goresan Hati Hari: 22.30 Kategori:

0 komentar: