CERPEN *MAAF*


Karya:Cerpen Nieya

Aku mempunyai teman yang menurutku hanya biasa-biasa saja dan menurut dia semua yang dia miliki tidak akan pernah bisa menjadi miliku. Itu pendapatku tentang teman q yang selau bersamaku. Aku memang terlakir dari orang tua yang tidak punya. Ayahku bekerja sebagai kuli bangunan sedangakan ibu membuat kue untuk mencukupi kebutuhan lainnya. Kue ibu di jual melalui warung-warung yan

g dekat dengan rumah dan kantin sekolah. Setiap hari aku mengantarnya sekalian berangakat kesekolah. Keadaan ini terbalik 180 derajat dengan kehidupan dia. Apapun yang dia inginkan selalu terpenuhi kerena orang tuanya termasuk orang terkaya di indonesia serta anak tunggal dikeluarganya, kurang apa coba. Tapi yang menjadi kelebihanku adalah aku lebih pintar darinya sehingga aku dapat beasisiwa dari sekolah terfavorit bagi siswa orang kaya.

Pertemuan kita terjalin sejak kita duduk di sekolah menengah pertama. Saat kita ospek siswa baru dia selalu bersamaku. Awalnya dia sangat baik, tapi lama kelamaan aku berteman dengannya aku jadi sifat aslinya. Kita sekarang sudah memasuki kelas 1 sekolah menengah akhir. Aku dan dia menempati kelas yang sama dan sekolah yang sama. Aku selalu memberikan senyuman palsu saat dia menyapaku atau saat dia bercerita hal-hal yang membuat dia bahagia yang membuatku ingin muntah saja.

Sinta adalah namanya. Nama yang selalu bersanding dengan rama tokoh pewayangan. Namun tidak di dunia nyata sinta yang ini selalu bersamaku.
“hai”sapa sinta padaku
“oh...hai” kataku singkat
“minta tolong dong ajarkan soal matematika yang kemaren”

Aku mengajarkan soal itu. Sinta memang selalu meminta tolong untuk mengajari soal yang tidak dia mengerti. Sebagai orang yang lebih pintar dari dia aku selalumengajarinya dan terkadang aku diajak ke rumahnya yang besar itu untuk belajar bersama. Orang tunya juga menganalku. Sering sekali aku di ajak kerumahnya untyk belajar bersama sekalian memaerkan barang-barang mahal yang baru dia beli dan sifat itu yang termasuk salah satu daftar sifat yang aku benci.

Pagi ini seperti biasa aku mengantarkan kue ke warung-warung langganan ibu. Aku mengakui kalau kue ibu enak, namun yang membuat bingung kue yang aku antar ke warung-warung dan kantin selalu habis. Bukannya menolak rezeky tapi tiap orang lidahnya berbeda-beda dab pasti ada rasa bosannya juga kuenya itu-itu mulu. Aku tetap bersyukur atas rezeky yang diberikanNYA ubtyk keluargaku. Hanya satu orang yang aku tahu tidak suka dengan kue ibu. Dia adalah sinta. Setiap aku menawarkan roti untuknya, sinta selalu menolaknya dengan alasan
“pasti itu gak terjamin kwalitasnya dan membuat sakit perut..juga..”

Dan bla-bla. Bosan aku mendengarkan ocehan yang keluar dari mulutnya. Jadi sejak saat itu aku tidak pernah menawari dia kue buatan ibu.
“pulang sekolah ini kemall yuk aku mau beli baju buat pesta ulang tahun sekolah besok lusa” ajaknya
“bajumukan masih banyak kenapa harus beli baju baru lagi” alasanku yang enggan ikut dia ke mall
“emangsih banyak tapi aku ingin yang special, mau ya rara sekalian jalan-jalan gimana?” bujuknya
“ya udah deh terserah kamu aja”
“yes...tank’s ya me best friend”

Aku mengeluarkan senyuman palsu lagi dihadapannya. Entahlah dia mengerti atau tidak, aku tidak peduli. Pulang sekolah kita langsung menuju mall yang sering kita kunjungi. Mall tempat orang-orang kaya sperti sinta. Semua yang dijual di mall tersebut diatas 500rbu. Aku mengamati satu gaun berwarna merah warna kesukaanku. Tetapi saat aku melihat harganya langsung aku menghindarinya. Sinta berada dibelakangku juga melihat baju ity.
“bagus...750 ribu pasti gak bisa beli ya” kata sinta
“udah tau nanya” batinku
Aku tidak menghiraukannya dan kembali melihat-lihat baju salah satu butik di mall tersebut. Aku melihat sinta memanggil pelayan buti untuk mengambil gaun itu kemudian membayarnya. Seperti biasa sinta selalu membeli apa yang aku suka. Sinta selalu membeli barang-barang yang aku suka. Setiap aku melihat barang-barang yang menurut aku bagus pasti sinta membelinya. Sikap itu menambah daftar sifat yang aku benci dari sinta

Akhirnya dari 3 jam kita berputar-putar sinta menemukan baju untuk dipakainya di pesta ulang tahun sekolah. Sinta ingin membeli es krim untukku dab untuknya ditambah pula dengan kata-kata “tenang seperti biasa biar aku yang belikan”. Memang setiap dia membeli makanan selalu dia yang membayar. Karena aku tidak mampu membeli makanan semahal itu. Paling juga nasi goreng.
“kenapa kamu beli lagi, kan tadi sudah beli tuh yang warna merah” kata aku mengawali pembicaraan menuju pulang
“mengoleksi boleh lah, dari pada gak bisa mengoleksi” kat sinta
“ouh” jawabku singkat
Aku tahu kata-kata tadi menyindir aku. Karena aku tidak mungkin dapat mengoleksi baju yang bagus dan mahal. Sinta mengantarku pulang terlebih dahulu. Aku tahu sinta enggan untuk menginjakkan kainya di rumahku yang kecil. Sinta langsung menyuruh supirnya untuk pulang segera.

Saat aku mengantarkan kue ke kantin sekolah. Bu ani penjaga kantin itu menyakan sinta dengan ciri-ciri yang mirip dengan sinta.
“biasanyakan ikut kamu” kata bu ani
“dia nggak pernah ikut raya kok bu”
“tapi dia yang selalu...” ibu ani menghentikan pekataannya saat melihat kebelakangku

Aku melihat kebalakang tidak ada orang disan hanya ada tiang-tinag. Anak-anak pun masih belum bermunculan. Karena tiap pagi sebelum anak-anak mulai masuk aku sudah menyerahkan keu itu ke bu ani.
“ibu melihat apa”
“ha..enggak ya sudah kuenya taruh situ saja” kat bu ani sambil menunjuk ke maja kantin
“tapi tadi kata ibu kalo sinta yang selalu apa?”
“ouh itu dia yang selalu nemenin kamu kan”
“iya”

Aku pergi meninggalkan bu ani dengan pikiran yang membuatku bingung. Kebingunan itu membuatku menabrak seseorang didepanku. Cowok yang selama ini aku suka. Dia ketua tim basket dan ketua osis disekolah ini. Selain itu dia menjadi rivalku dalam hal kecerdasan yang membuat aku kagum dan menyukainya. Tapi yang tidak aku sukai adalah seperti biasa dia lebih dekat dengan sinta yang secara fisiknya lebih dari aku. Cantik putih tinggi itulah sinta.
“sorry ky...aku tadi lagi bengong jadi nabrak deh”
“gak pa pa kok lain kali jangan bengong ya...biar gak nabarak orang...untung aku yang kamu tabrak coba orang lain”
“bisa aja kamu ky”
“oh ya sinta belum dateng ya”
“ha...ouh gak tau juga sih aku belum masuk kelas....sekali lagi sory ya aku mau masuk dulu”
“salam ya ke sinta”
Aku meninggalkan rizky dengan senyuman palsu yang sering aku berikan ke sinta, karena rizky sudah menitip salam pada sinta yang membuat aku benci.

Tepat pukul 7 malam sinta menjemputku dengan mobilnya untuk menghadiri pesta ulang tahun sekolah. Gaun yang dia beli kemarin di pakainya, lalu gaun merah itu kenapa tidak dia pakai batin ku. Malam ini pestanya sangat meriah sekali, tetapi tidak buat aku. Rizky menunggu kita, bukan lebih tepatnya sinta. Gaun yang sederhana membalut tubuhku dan tidak pernah terlihat oleh rizky. Pesta dansa telah di mulai. Rizky mengajak sinta untuk berdansa dengannya, entah kenapa sinta malam ini menolaknya.
“perutku sakit, kamu aj yang dansa dengan rizky” bisiknya ketelingaku
“tapi...”
“ehm...biar raya aja gimana” potong sinta
“boleh juga...yuk ra”

Aku berdansa dengan rizky tanpa memperdulikan sinta yang sakit perut. Walaupun menjadi pilihan yang kedua rizky sudah membuat aku senang. Pesta telah berakhir rizky menawarkan pulang bersamanya karena sinta harus pulang terlebih dahulu karena sakit perut.
Selain pesta untuk mereyakan ulang tahun sekolah, masih ada acara trip school ke taman wisata besok yang bertepatan hari minggu.
Sinta dan akau duduk 1 bangku di bis. Sinta membawa 2 tas besar yang tak tahu apa isinya.
“pasti kamu gak bawa cemilan atau obat-obatan tenang mama sudah bawakan camilan dan obat-obatan untuk kita berduajadi kamu gak usah khawatir”
“jadi 1 tas itu isinya camilan dan obat-obatan trus yang 1nya lagi baju”
“jelas dong...kan makanan sama obat-obatan untuk untuk kita jadi aku bawa satu ikat penuh”
Sampai pada tempat yang dituju. Anak-anak di beri 1 tenda untuk ditempati 2 orang karena tempat itu cukup luas untuk semua siswa siswi. Rizky membantu kami untuk mendirikan tenda. Pak andre sebagai ketua dari trip ini menyuruh untuk berkumpul dan memberikan tugas untuk nanti malam yaitu pencarian jejak bintang. Tiap pos terisi 1 kelompok cowok dan 1 kelompok cowok. Aku, sinta, rani dan desi dari kelompok cewek, sedangkan kelompok cowok ada rizky, andre, toni, yoyo, dan abimasuk kepos 2.

Malam ini kami memulai pencarian jejak bintang ditiap-tiap pos masing-masing. Rizky menyuruh kita untuk berpencar dan otomatis aku dengan sinta. Sinta yang membawa seter aku berada dibelakanya mengikuti arah jalannya. Kita berdiri tepat diatas tebing dan dibawahnya banyak pepohonan.
“aku menemukannya” kata sinta
“mana”
“tapi di atas ra..gimana cara ngambilnya”
“biar aku aja yang naik dengan batu ini...lumayanlah buat bantu tangan ku”
“jangan....aku kan lebih tinggi dari kamu biar aku aj” kata sinta sambil menghalangi aku untuk naik
“mulai lagi” batinku
“terserahlah” izin ku
Sinta manaiki batu yang aku ambil tadi sambil menggoyangkan daunnya dengan ranting yang dia pegang. Entah setan apa yang maresukiku, batu yang menjadi penopang tubuhnya aku jatuhkandengan kakiku dan hal yang aku inginkan terjadi. Sinta jatuh dari tebing dan kepalanya membentur pohon yang mengakibatkannya pingsan. Aku berpura-pura meminta tolong, rizky dengan sigap menjadi penolong pertama. Tidak ada rasa bersalah yang aku rasakan hanya rasa lega yang sekarang terasa.

Malam itu juga kami membawa sinta kerumah sakit dan menelepon keluarganya. Semua anak-anak dipulangkan pada malam itu juga. Aku dan rizky menunggu sinta di rumah sakit.
“raya apa yang terjadi dengan sinta” tanya mama sinta yang baru saja datang bersama papa sinta
“raya juga kurang tahu tante..semunya tiba-tib aj terjadi” kataku polos
“dokter bagaimana keadaan anak kami” kata pap sinta pad dokter yang baru keluar dari ruang ICU
“kami sudah berusaha untuk menyelamatkan putri anda tapi tuhan berkehendak lain...putri anda mengalami koma tas benturan kepala yang sangat keras” ternag dokter
“Koma dok”
“apa kami bisa melihatnya dok”
“silahkan...kalo begitu saya tinggal dulu

Papa dan mama sinta masuk dalam kamar rawat. Aku hendak masuk melihat keadaan sinta, walaupun dalam hati aku ingin sinta lebih sakit dari pada ini. Namun Rizky menghalangi aku untuk masuk dan menarikku keluar dari rumah sakit.
“lepasin....sakit tahu”
“sakit...sakit kamu bilang...lebih sakit mana dengan yang dirasakan Sinta sekarang karena kelakuan sahabatnya sendiri”
“apaan sih...maksud kamu apa?” kataku mulai khawatir
“huh...apa kamu pikir gak ada manusia satu pun yang tahu dengan perlakuan kamu yang sengaja menjegal batu itu sehingga membuat Sinta jatuh”
“batu...aku sama sekali gak menjegal batu itu...salah lihat mungkin kamu”
“salah lihat...aku melihat dengan memakai penerangan dari lampu senter yang aku bawa...mana mungkin aku salah lihat”
“oh ya...jadi kamu sudah tahu semuanya...jadi aku harus sip-siap deh dibenci sama Sinta dan masuk penjara...uhc takut...tapi sayangnya kamu gak punya bukti”
“siapa bilang aku akan mengatakan ini ke Sinta dan memasukan kamu ke penjara...asal kamu tahu Sinta itu sangat peduli sama kamu dia selalu bercerita hal-hal yang baik tentang kamu dan dia ingin kita bersatu...dia tahu kalo kamu menyukaiku...ya walaupun kamu tidak mengatakannya”
“huh...terus aku harus bilang...uhkc so sweet”
“asal kamu tahu aku sudah melai belajar untuk menyukai kamu dari kita dansa dan mengantarkan kamu pulang juga saat trip kemarin...padahal semua itu adalah ulah Sinta agar kamu senang dengan pestanya karena sinta tahu kamu sangat tidak happy dengan pestanya...makanya dia pura-pura sakit perut”
“tapi bukanya...”
“dulu memang aku sama Sinta tapi dia menolakku...karena kata dia da yang lebih pantas berada disamping aku...yaitu kamu”
“udah deh ya...terserah kamu mau ngomong apa...tapi yang harus kamu tahu Sinta lebih baik berbaring disitu dan semua rasa sakit yang selama ini aku rasain masih kurang dengan apa yang dia rasain sekarang” kataku sambil meninggalkan Rizky
“suatu saat kamu akan mengerti dan menyesal telah berbuat seperti itu...Sinta lebih baik dari apa yang kamu pikirkan tentang dia”

Sudah 3 hari ini aku belum menjenguk Sinta sejak kecelakaan itu. Aku masih belum berniat untuk menjenguknya, bukan karena tahut tapi aku hanya ingin menenangkan hidup tanpa adanya Sinta. Bukan rasa tenang yang aku rasakan melainkan rasa hampa, ada sedikit rasa kehilangan seorang teman yang selalu mengganggu hidupku.

Pulang sekolah ini aku berniat untuk menjenguk Sinta dan melihat keadaannya. Sinta masih berada di ranjangnya dengan infus dan alat pernafasan yang selalu menemaninya. Tidak ada orang satupun diruangan itu hanya ada Sinta dan barang-barang yang masih terbungkus rapi. Aku melihat satu persatu barang itu, semua barang itu aku sangat mengenalnya. Barang-barang yang sekarang ada di depanku adalah barang yang selama ini aku suka tapi selalu dibeli oleh Sinta. Ada gaun merah yang baru saja di belinya kemaren masih berada di tas seperti belum pernah Sinta pakai.
“ternyata masih berani kamu datang kesini” kata rizky mengagetkanku
“Ouh...aku kira tidak ada orang yang menemani dia, ternyata ada kamu...aku hanya ingin melihat keadaan Sinta bagaimanapun juga dia pernah menjadi teman aku”
“teman”
“ya...teman”
“padahal kata Sinta...kamu itu sudah seperti saudara dia dan kamu hany menganggap dia hanya sebagai teman..ternyata dia keliru menganggap kamu sebagai saudarnya...sudahlah...oh ya kata mama Sinta kamu bisa mengambil barang-barang yang ada disitu”
“barang-barang ini untuk aku...bukanya ini punya Sinta: kataku heran
“kata mama Sinta barang-barang itu sengaja dibeli sinta untuk kamu karena kamu pasti menyukainya dan Sinta akan memberikannya nanti, saat dimana barang-barang itu sudah mulai memenuhi kamar yang disediakan untuk kamu dan juga keluargamu. Serta mama Sinta minta maaf tidak bisa membeli kue-kuemu yang selalu Sinta beli untuk anak-anak kurang mampu....sudah waktunya kamu tahu betapa Sinta sangat peduli sama kamu...sikapnya yang selama ini dia tunjukan hanya untuk menutupi segala kebaikan yang Sinta berikan untuk kamu....hmhmhm jujur bukan mama Sinta yang bilang seperti itu...semua itu karena Sinta sendiri yang cerita ke aku...hanya itu yang bisa aku katakan agar kamu nmenegrti bahwa Sinta bukan seperti yang kamu pikirkan”

Aku tertunduk lesu kelantai, kakiku sudah tidak dapat menopang badanku yang penuh dosa ini. Memang selama tiga hari ini kue-kue yang aku berikan ke warung-warung atau kekantin semuanya masih terdapat sisa. Air mata mulai menetes membasahi pipi. Hatiku terasa sudah remuk mendengar setiap patah kata yang diucapkan Rizky padaku. Semua rasa sakit hati yang aku rasakan berubah menjadi rasa bersalah yang teramat dalam setelah melihat apa yang dilakukan Sinta selama ini. Rizky mencoba untuk menenangkan aku dan membantu aku untuk bangun. Tapi aku sudah tidak kuat lagi untuk bangun, sudah terlalu banyak dosa yang menghampiriku.
“apa yang di bilang Rizky kamaren banar sin...aku sangat dan sangat menyesal dengan apa yang aku lakukan ke kamu...aku memang bukan sahabat yang baik untuk kamu. Tidak mengerti apa yang kamu mau dan apa yang akamu lakukan untuk aku...mestinya aku mencoba untuk selalu mengerti dari sikap-sikap kamu selama ini....dan mestinya aku yang lebih pantas ada di situ bukan kamu....maf...maaf...seribu kali aku meminta maaf tidak akan pernah cukup untuk menggantikan semuanya yang telah kamu perbuat untuk aku ataupun menggantikan posisi kamu sekarang...dari kamu sekarang aku mulai sadar kamu bukan sekedar teman bagi tapi kamu adalah malaikat pelindungku dan kamu adalah sahabat aku untuk selamanya...karena sahabat akan saling menutupi kelemahan sahabatnya” kataku dalam isak tangis yang tidak bisa aku bendung lagi

“SAHABAT SEJATI AKAN SELALU MENCOBA SEGALA CARA UNTUK MEMBAHAGIAKAN SAHABATNYA WALAUPUN DENGAN CARA YANG SALAH SEKALIPUN DAN MEMBUAT SAHABATNYA MEMBENCINYA”

Ditulis Oleh : Goresan Hati Hari: 05.24 Kategori:

0 komentar: