Cerpen cinta -Kata Maaf Terakhir


Aku mulai mempersiapkan segalanya. Aku gak ingin Ferdian kecewa dengan penampilanku nanti.
Untuk pertemuan dengannya kali ini, aku memang ingin tampil semaksimal mungkin.
Dari mulai perawatan tubuh, rambut, dan pakaian yang akan aku kenakan kali ini memang bisa dibilang lain dari biasanya.
Karena aku ingin tampil secantik mungkin didepan Ferdian, sampai-sampai aku meminta Fen

y temanku, untuk membantu meriasku.
Aku tak sempat pergi ke salon, karena kupikir hanya akan membuang-buang waktu saja, sedangkan waktuku untuk mempersiapkan pertemuan ini tak banyak.

“Gimana, Nel? Bagus kan hasil riasan gue?” Feny menanyakan hasil kerjanya meriasku.

Aku amati wajahku di cermin. Kelihatannya sudah ok.
Aku tak salah meminta Feny membantu memake-upku.
“Emm, ok juga,” sahutku, “Gak salah deh gue minta loe buat make-up gue,”
“Hmm, siapa dulu dong, Feny gitu looh, kalo cuma soal rias merias sih keciiiilll!!!, haahaa”, ujar Feny bangga.
“Hmm, iyah yah.. loe kan dulunya bekas tukang salon yaakkk???!!!, haahaa,” ledekku.
“Yeehhh!, sialan loe,” sahut Feny sambil menekuk mukanya.
“Duuuuhh!, jangan marah dong nona Feny yang cantik, kan gue cuma bercanda, loe kok jadi cemberut gitu sih,” rayuku.
“Bodo!!!” sergah Feny sembari memalingkan wajah dariku.
“Yaahh, kok gitu, ya udah entar gue traktir loe makan deh sepuasnya direstoran favorit loe, sebagai permintaan maaf gue sekaligus ucapan terima kasih gue karena loe udah make-up gue, gimana?”
Tiba-tiba Feny membalikan badannya dan tertawa ceria.
“Haaha!!!, itu yang gue tunggu-tunggu,” sahutnya.
“Yaah!!!, sialan, loe ngerjain gue yaakkk?” ucapku sambil mencubit lengannya.
“Haahaa!!!” tawa Feny membahana.

Hari ini aku mengenakan gaun berwarna putih, lengkap dengan sepatu hak tinggi yang berwarna senada dengan gaun yang ku kenakan.

Rambutku yang hitam panjang ditata rapi oleh Feny.

Aku kangen banget sama Ferdian.

Terakhir kali kami bertemu sekitar lima bulan yang lalu.
Lima bulan yang terasa begitu lama bagiku, karena biasanya kami selalu bersama-sama saat dikampus. Dia juga ngekost di tempat kost yang tak jauh dari rumahku agar tak repot jika kami ingin jalan berdua.
Lima bulan yang lalu setelah liburan semester, ia pamit padaku untuk pulang kekampung halamannya di Bandung, sejak saat itu aku selalu kesepian.
Tadinya aku mengira dia tak akan pergi sampai selama itu.
Setiap aku menanyakan kapan dia kembali ke Jakarta, ia selalu mengelak untuk menjawabnya.
Ada saja alasan yang mengalihkan pertanyaanku.
Hari demi hari aku selalu merindukannya.
Liburan yang seharusnya bisa kami lewati untuk jalan berdua terasa hambar.
Hubungan jarak jauh lewat telepon tak dapat menuntaskan kerinduanku padanya.
Apalagi selama berhubungan jarak jauh, komunikasi kami tidak berjalan lancar.
Selama berada di Bandung, ia jarang sekali menghubungiku, paling hanya beberapa kali saja.
Entah kenapa, aku selalu mencoba untuk memahami dia.
Walaupun dia tak pernah memahami rasa rinduku yang telah memuncak.
Sebenarnya aku bisa dengan mudah menyusul dia ke Bandung, tapi selama ini ada saja halangan yang membuatku tak bisa menyusulnya.
Selain itu, Ferdian juga gak pernah mengizinkanku untuk menyusulnya.
Hari ini dia kembali ke Jakarta pun tak akan lama. Ia bilang padaku, hanya sekitar dua hari di Jakarta.
Menemuiku, dan kemudian ia akan kembali lagi ke Bandung.
Entah ada urusan apa di Bandung.
Setiap kali aku bertanya, ia hanya bilang kalau ia rindu sama kedua orang tuanya.
Tapi kenapa harus selama itu?
Sudah lima bulan di Bandung, kemudian ke Jakarta hanya dua hari untuk menemuiku.
Lalu ia akan kembali ke Bandung lagi.
Apa harus selama itu ia mencurahkan kerinduannya pada kedua orang tuanya?
Entahlah.

“Hellow... tuan putri Sanella Fitrianti kok malah bengong sih?” ledek Feny seraya melambai-lambaikan tangannya didepan mataku.

Lamunanku terberai.
“Heehee.. sory, lagi keinget sama Ferdian tadi,” sahutku, “gue kangen banget sama dia, Fen,”
“Yaah... kangen kok malah melamun, bukannya cepet-cepet temuin dia, liat tuuh uda jam berapa,” ujar Feny sambil mengangguk ke arah jam diatas mejaku.
Ku picingkan mata untuk melihat jam.
-19. 45-
“Haahhh!, kok cepet banget udah jam segini sih, Fen, gimana nih?” tanyaku panik.
“Lah kan udah beres semua, tinggal berangkat sana, gitu ajah kok repot,” sahut Feny.
“Iya yahh, gue udah cantik belum nih,” tanyaku sambil mengamati wajahku dicermin.
“Udah!, cantiiik bangettt!!!” jawab Feny, “udah sana berangkat, entar loe terlambat lagi,”

Aku segera mencegat Taksi.

Aku butuh kendaraan cepat agar tidak terlambat sampai di Cafe favorit kami yang telah kami janjikan.
Didalam taksi jantungku berdetak kencang. Entah mengapa aku menjadi sedikit gugup untuk bertemu dengan Ferdian.
Padahal biasanya tak pernah seperti ini.
Kami janjian bertemu jam delapan malam.
Karena tadi aku terlalu lama melamunkan Ferdian, sampai-sampai aku tak sadar sudah hampir jam delapan.
Ku lirik jam di tangan kiriku.
-19.55-
Aduh, tinggal lima menit lagi sebelum jam delapan. Sepertinya gak akan mungkin terkejar jika aku menginginkan untuk datang tepat waktu, gumamku sedih.
Tadinya aku ingin datang lebih awal –atau setidaknya tepat waktu, aku ingin memberikan kesan yang terbaik untuk Ferdian, tapi sepertinya aku harus menerima keadaan.
Waktu dan keadaan memaksaku untuk datang terlambat kali ini.

* * *


“Sory ya, Fer, aku datang terlambat,” kataku meminta maaf.

“Ehm, iyah gak apa-apa, aku juga belum lama kok,” sahutnya.
Setelah selesai menyantap hidangan yang kami pesan, kami pun mulai ngobrol.
Terasa ada yang berbeda dari obrolan kami kali ini.
Kaku!
Obrolan kami terasa begitu kaku.
Entah mengapa Ferdian bersikap tak seperti biasanya . ia lebih banyak diam sekarang.
Mungkin karena kami sudah lama tak berjumpa.
“Emm... Nel, ada hal penting yang mau aku omongin ke kamu, ku harap kamu bisa mengerti,” kata Ferdian memulai percakapan.
“Hal penting apaan sih sayang, kok keliatannya serius banget?” tanyaku penasaran.
“Tapi kamu jangan marah yaa,”
“Yaa.. kenapa aku harus marah?” tanyaku balik, “Emang ada apaan sih sayang?”
“Emm, sebenarnya beberapa bulan terakhir aku pulang ke Bandung bukan hanya untuk mencurahkan kerinduanku sama kedua orang tuaku,” ucapnya pelan.
“Terus?” tanyaku semakin penasaran.

Aku menunggu Ferdian untuk berkata lagi.

Tapi ia terdiam.
Sepertinya banyak hal yang sedang dipikirkannya.
Ada apa sebenarnya? Kenapa Ferdian mendadak jadi berubah begini.
Apa selama tujuh bulan kami tak bertemu telah terjadi banyak hal yang tak ku ketahui, yang telah membuat Ferdian yang kukenal menjadi seperti orang asing bagiku.

“A..aku, aku di jodohin sama orang tuaku, Nel,” ujarnya kemudian.

DEGG!!!
Serta merta jantungku terasa berhenti berdetak. Darahku terasa berhenti mengalir.
Dadaku terasa begitu sesak mendengar apa yang baru saja Ferdian ucapkan.
Aku benar-benar tak percaya.
Ferdian di jodohin?
“Udah deh sayang..., jangan bercanda gitu dong, gak lucu tau....” ujarku berharap bahwa Ferdian hanya bercanda dengan apa yang dia ucapkan.
Tapi dari raut wajahnya aku dapat melihat suatu keseriusan.
Mungkinkah dia gak main-main dengan ucapannya tadi?
“Aku gak sedang bercanda, Nel,” sahutnya sambil mengerutkan kening.
“Orang tuaku menjodohkanku dengan anaknya temen bokapku, dan nyokapku juga bilang kalo dia menginginkan menantu yang juga bersasal dari Bandung,” tambahnya.
“Lantas kamu mau?” tanyaku sambil terisak.
Tak terasa air mataku mulai mengalir perlahan.
Air mata ini telah menghapus make-up yang telah aku persiapkan khusus untuk Ferdian.
Sekarang semua sia-sia.
Harapanku seakan telah musnah.
“Ya... aku gak bisa menolaknya, Nel, aku gak mau ngecewain orang tuaku, terlebih nyokapku, kamu tau kan aku sayang banget sama mereka,” jawabnya
“Ku harap kamu bisa mengerti, Nel, aku sayang banget sama kamu, tapi aku juga gak mungkin ngecewain orang tuaku, mungkin lebih baik kita akhiri hubungan kita, aku yakin kamu bisa temukan orang yang lebih baik dari aku” tambahnya.

Aku terdiam mendengarkan penuturannya.

Mendadak lidahku terasa kelu.
Aku tak dapat lagi berkata-kata.
Keadaan ini terlalu pahit untuk aku rasakan.
Bayangkan saja, selama lima bulan aku selalu merindukannya.
Setiap hari tak pernah lepas aku memikirkannya.
Dipertemuan kali ini aku berharap, hubungan kami akan semakin membaik dari sebelumnya.
Banyak hal yang ingin aku ceritakan padanya, tentang apa yang aku alami selama dia tak disisiku.
Tapi apa yang ku dapat.
Kekecewaan!.
Sekarang dia datang hanya untuk mengatakan sesuatu yang menghancurkan harapan dan hatiku.

“Ya udah kalo begitu,” ucapku sambil menahan tangis.

“Maksud kamu?” Ferdian bertanya
“Ya udah kita putus, itu kan yang kamu inginkan?” sergahku.
Kemudian aku berlalu meninggalkan dia.
Aku pergi bersama air mata dan rasa pahit yang harus aku telan.
Saat aku menjauh darinya, aku berharap dia akan memanggilku kembali.
Jujur saja aku tak bisa hidup tanpanya.
Aku terlalu mencintainya.
Tapi harapanku sia-sia.
Ia tak mencegahku pergi. Ia tak memanggilku kembali.

* * *


“Udah dong, Nel, jangan sedih terus, masih banyak kok cowok lain yang lebih baik dari Ferdian,” hibur Feny setelah ku ceritakan semua padanya.

“Loe gak tau, Fen, apa yang gue rasain sekarang, hati ini sakiiit Fen, sakiiit!!!” kataku sambil menangis tersedu-sedu.
“Iyah, gue tau kok apa yang loe rasain sekarang, sabar ya...” sambung Feny seraya memelukku.
“Selama ini gue berharap bisa bersatu sama Ferdian untuk selamanya, gue selalu sabar menghadapinya ketika selama lima bulan dia pergi dan begitu jarangnya menghubungiku. Gue selalu mencoba untuk memahaminya. Tapi..., tapi apa coba sekarang yang gue dapat?......, sakiiit, Fen,”
Aku menangis di pelukan Feny.
Aku tak henti-hentinya menangis.
Mungkin aku berharap air mataku dapat menghapus luka di hatiku.
Walaupun aku tau itu tak mungkin terjadi.

Waktu terus berlalu.

Menyisakan luka dihatiku yang kemudian berujung kebencian.
Rasa cinta untuk Ferdian kini telah berubah menjadi benci.
Aku tak ingin lagi mengenang semua tentang dia.
Sejak ia memutuskan untuk berpisah denganku, hidupku menjadi berantakan.
Aku jadi malas berangkat kuliah. Malas beraktivitas. Aku lebih banyak mengurung diri dikamar.

Tiba-tiba handphone ku berdering.

Deny memanggil.
Deny adalah teman sefakultas Ferdian.
Ada apa dia menelfonku?, aku bertanya-tanya.
“Halo, Sanella yah?” Deny bertanya
“Iyah ini gue, ada apa Den?”
“Ada hal penting yang mau gue omongin, Nel,” sahut Deny dengan nada suara berat.
“Soal apa?”
“Ini tentang Ferdian, Nel”
“Ferdian?, males banget gue bahas dia, udah deh loe gak usah ngomongin dia lagi sama gue, gue benci sama dia!!!” bentakku sembari menutup telfonnya.
Deny mencoba menghubungiku lagi. Berkali-kali.
Aku tak menghiraukannya.

Aku melewati hari demi hari di kamarku.

Merenung dan memikirkan sesuatu yang tak pantas lagi untuk aku pikirkan.
“Nel!, Nella, ini gue Feny, bukain pintu dong,” Feny memanggil sambil mengetuk pintu kamarku.
Aku sengaja menguncinya agar tak ada seorang pun yang menggangguku.
“Gue lagi pengen sendiri, Fen, pliiis tinggalin gue,” sahutku.
“Ada hal penting yang mau gue omongin, loe pasti nyesel kalo gak mau denger,”
“Hal penting apaan sih?” tanyaku.
“Ferdian, Nel..............”
“Kalo loe mau bicara soal dia, mending loe pulang ajah sekarang, gue benciiii sama dia!!!” sergahku memotong ucapannya.
“Ferdian meninggal, Nel!!!, Ferdian meninggal...” teriak Feny dari balik pintu.
Apah Ferdian meninggal? Gumamku.
Aku terperanjat mendengar ucapan Feny. Aku bergegas membukakan pintu.
“Apa maksud loe Fen? Ferdian meninggal?” tanyaku masih tak percaya.
“Iyah, Nel, Deny yang ngabarin ke gue katanya Ferdian meninggal kemarin lusa,” sahut Feny
“Deny juga bilang katanya dia udah mencoba ngabarin loe, tapi loe gak mau ngangkat telfonnya”
Seketika tubuhku melemah.
Jadi kemarin lusa Deny hubungin gue buat ngabarin kalo Ferdian meninggal, dan bodohnya gue gak mau mendengar penjelasannya, sesalku.
“Ferdian meninggal kenapa Fen?” tanyaku sambil terisak.
“Gue juga belum tau Nel, gue belum sempet tanya sama Deny karena gue keburu pengen ngabarin ke elo.”

* * *


Esok paginya aku langsung bergegas ke Bandung dengan ditemani Feny.

Setelah menanyakan alamat rumah Ferdian di Bandung, kami langsung menuju kesana.

“Maaf tante kalo kami mengganggu, kami teman kuliah Ferdian di Jakarta, kami baru mendengar kalo Ferdian meninggal, apa itu benar tante?” tanyaku pada ibunya Ferdian sambil menahan kesedihan.

“Iyah nak, Ferdian udah meninggal empat hari yang lalu,” jawab tante Mira –ibunya Ferdian–
Sontak tangisanku tak bisa ku bendung lagi.
Aku menangis dipelukan Feny sejadi-jadinya.
Aku tak pernah membayangkan akan seperti ini jadinya.
”Sepertinya tante gak asing dengan wajah kamu nak,” ucap tante Mira padaku.
“Apa kamu Sanella, pacarnya Ferdian?” tambah tante Mira.
“Iyah tante, tapi kami sudah putus saat kemarin Ferdian ke Jakarta,” jawabku.
“Lho kenapa putus?, padahal Ferdian selalu cerita sama tante kalo dia sangat mencintai kamu,” tanya tante Mira.
“Ehm, Ferdian sendiri yang memutuskan hubungan kami tante, katanya Ferdian udah di jodohin sama om dan tante,” sahutku menjelaskan.
“Di jodohin?” ucap tante Mira dengan wajah terkejut, “Tante sama om tidak pernah menjodohkan Ferdian sama siapapun, kami taunya Ferdian udah punya pacar di Jakarta yaitu kamu, dan kami tidak pernah membatasi Ferdian mau pacaran sama siapapun,” jawab tante Mira.
Hatiku kembali terasa melemah.
Ternyata Ferdian gak pernah di jodohin?
Tapi kenapa dia bilang padaku kalau dia udah di jodohin?
Apa yang sebenarnya terjadi?
Aku menjadi semakin bingung.

“Oh ya, sebelum meninggal Ferdian menitipkan sesuatu buat kamu, sebentar ya tante ambil dulu,” ucap tante Mira kemudian masuk kedalam.

“Ini titipan dari Ferdian buat kamu,” kata tante Mira seraya menyodorkan sepucuk amplop padaku.
Sepertinya ini sebuah surat, aku menerka.
“Ohh ya, tante, kalo boleh saya tau ada urusan apa yah kemarin Ferdian pulang ke Bandung sampai lima bulan lamanya?” tanyaku penasaran.
“Lho, memangnya kamu tidak tau?, selama beberapa bulan terakhir kan Ferdian di rawat di Rumah sakit,”
“Apah di rawat dirumah sakit?” tanyaku terkejut.
Jadi selama lima bulan Ferdian di Bandung, dia dirawat dirumah sakit.
Dan aku telah berburuk sangka padanya.
“Iyah Nella, Ferdian pulang ke Bandung untuk berobat, Ferdian menderita kanker otak stadium akhir,”
Hah??? Ferdian menderita kanker otak stadium akhir?
Aku kembali terkejut dengan apa yang tante Mira ucapkan.
Kenapa selama ini aku gak pernah tau kalau Ferdian sakit, dan kenapa dia juga gak pernah cerita padaku?
“Tante sama om juga baru tau kalau Ferdian menderita kanker otak saat Ferdian pulang kesini lima bulan yang lalu, dari dulu Ferdian gak pernah cerita kalau dia sakit,” terang tante Mira sambil terisak.
“Maaf tante, selama ini saya juga tidak tau kalo Ferdian sakit, dia juga gak pernah cerita sama saya tante,”
Tante Mira hanya mengangguk sambil menahan kesedihannya.
“Oh ya tante, boleh saya tau dimana Ferdian di makamkan?” tanyaku.

* * *


Aku mendekat ke sebuah nisan yang belum kering tanahnya.

–FERDIANSYAH SAPUTRA–
Air mataku kembali mengalir melihat nama yang tertulis dibatu nisan.
“Kamu yang sabar ya Nel, ini sudah kehendak Tuhan,” Feny menghiburku.
“Fen, bisa tinggalin gue sendiri, pliiis, gue pengen sendiri dulu disini,” ucapku memohon.
Feny meninggalkanku sendiri didekat makam Ferdian.
Aku tertunduk di makam Ferdian.
“Fer, kenapa kamu pergi secepat ini, padahal aku masih sangat merindukan kamu, baru saja kita bertemu beberapa hari yang lalu setelah lama kita tak bertemu, dan sekarang....., dan sekarang kamu pergi untuk selamanya,” ujarku terisak.
Aku benar-benar menyesal.
Aku menyesal tak berada disamping Ferdian disaat-saat terakhir disisa hidupnya.
Oh ya, aku teringat dengan titipan Ferdian untukku.
Aku membukanya, ternyata benar tebakanku, ini sepucuk surat dari Ferdian.

Dear my Lovely, Sanella Fitrianti


Sebelum aku memulai apa yang ingin aku sampaikan sama kamu, terlebih dahulu aku ingin meminta maaf sama kamu Nel.

Maafkan aku...
Ku berharap kamu mau memaafkanku.

Aku tau selama ini aku selalu menyakiti perasaanmu.

Aku sadar aku tak pernah bisa menjadi seorang kekasih seperti apa yang kamu harapkan.
Aku juga sangat mengerti betapa besar cintamu padaku, begitu juga denganku.
Kamu adalah wanita terbaik yang pernah aku kenal.
Kamu telah mengajarkanku tentang banyak hal.
Termasuk kasih sayang yang kamu berikan, yang tak pernah putus untukku.

Maafkan aku Nel,

aku tak bisa memenuhi kerinduanmu selama ini.
Aku diserang rasa takut yang luar biasa saat aku tau kalau aku sakit parah dan harapan untuk hidup sangat kecil.
Aku takut melihat kamu bersedih Nel, aku takut melihat kamu menangis.
Aku terlalu menyayangimu dan tak ingin kamu terluka.
Untuk itulah, kemarin aku ke Jakarta dan bilang kalau aku sudah di jodohkan,
Sebenarnya aku hanya tak ingin kamu bersedih dengan keadaanku.
Aku tak ingin disisa nafas terakhirku melihat kamu menangis.
Kemarin aku berharap aku bisa melihat senyum terakhir darimu, tapi ternyata yang kudapatkan adalah sebaliknya.
Tapi ya sudahlah, ini memang salahku.
Mungkin sudah semestinya semua seperti ini.
Dan aku berharap kamu bisa menerimanya, Nel.

Sekali lagi aku minta maaf yang sebesar-besarnya.

Maafkan aku,
Maafkan aku,
Maafkan aku...

Saat kamu membaca surat ini, aku minta satu hal padamu

TERSENYUM NELLA!!!
Tersenyumlah untukku.
Meski aku tak lagi nyata bersamamu, tapi aku akan selalu melihat senyummu.

Aku ingin sekali menangis membaca surat dari Ferdian.

Tapi, aku tak ingin mengecewakannya lagi.
Aku harus penuhi keinginan terakhirnya untuk melihatku tersenyum–meskipun sudah terlambat–
Aku mengembangkan senyumku perlahan.
Aku tersenyum Ferdian.
Aku tersenyum untukmu.
Doaku selau bersamamu. Semoga kamu tenang disana.

–THE END–

Ditulis Oleh : Goresan Hati Hari: 00.55 Kategori:

0 komentar: