CERPEN BERAKHIR SAMPAI DI SINI

CERPEN KARYA YOPI NURAINI

Semilir angin yang terdengar sendu di telingaku menemani lamunan ku di senja ini
Taman dekat kampus dengan air danau yang menghiasinya membuat aku betah berlama-lama berda disini, karena ketenangan itu ada ketika ku disini.
Demi mengejar sebuah cita-cita, ku harus menuntut ilmu sampai meninggalkan tempat kelahiranku. Jauh dari orang tua, saudara, dan juga kekasih ku. Ya, aku punya kekasih tapi seperti tak punya, karena jarak yang memisahkan kita berdua sehingga jarang sekali kita untuk bertemu. Tak jarang jika ada waktu senggang dan libur kuliah, aku pulang untuk menemui orang tua ku dan kekasih ku, tapi tak jarang pula kekasih ku lah yang datang kemari menemui ku jika dia punya banyak waktu.
Awalnya kekasih ku tak setuju saat ku putuskan untuk kuliah disini di kota Semarang ini, namun ku katakan satu kalimat kepadanya “aku akan slalu menjaga hati ku dan juga hati mu dan aku percaya kau juga akan melakukan itu untuk ku”  dengan hati sedih akhirnya dia pun setuju, walau ku tau pasti ini kan berat untuknya begitu pun untuk ku. Tapi ini sudah keputusan ku, jadi mau tidak mau harus ku lalui semua ini.
Setahun sudah aku jauh dari nya, terkhir ku bertemu dengannya yaitu 3 bulan yang lalu. Walau pun begitu, aku senang, karena komunikasi kita berjalan dengan baik. Tak lupa dia selalu menelphone ku secara rutin.
Namun 2 minggu terakhir ini, ku rasakan ada yang berbeda, dia berubah. Dia jarang menelphone ku lagi, bahkan dia hanya mengirim sms pada ku seperlunya saja. Ku tanya dia, tapi dia hanya menjawab “siapa yg berubah? Saat ini aku sedang sibuk. Aku harap kamu bisa ngerti yah sayang.” hanya itu yang dia katakan. Dan aku hanya diam dan mencoba untuk mengerti, aku tidak mau memperkeruh keadaan saat ini.
Satu bulan sudah berlau, tidak ada perubahan yang membaik dari diriya. Aku merasa dia menjauh dari ku. Ada apa ini, hati kecil ku terus bertanya dan meronta tak mau jika keadaan seperti ini terjadi. Minggu depan kuliah ku libur selama 5 hari, dan seperti biasa jika ada waktu libur ku sempatkan diri ini untuk pulang menemui orangtua ku dan kekasih ku yang jauh disana. Sengaja kepulangan ku kali ini tidak memberitahunya. Karena aku ingin memberi kejutan pada kasih ku tersayang.
Aku pulang dengan membawa kendaraan pribadi ku. karena libur kali ini cukup lama jadi aku membawa perlengkapan yang cukup banyak, dan semuanya ku masukkan ke dalam mobil ku itu. Ketika sampai dirumah, aku beristirahat dan ke esokan harinya, ku pergi ke kampus kekasih ku. Ya dia memang masih kuliah saat ini, dia sudah smester 7 dan aku baru semester 2.
Karena aku tidak memberi tahu sebelumnya, jadi ku tunggu dia di resto yang ada di seberang kampusnya. Rindu ini sudah menjamur di hati, tak sabar rasanya ingin segera ku lihat senyum manis di bibirnya dan tatapan hangat matanya. Aku menunggunya di resto ini karena dia selalu ke resto ini bersama teman-teman lainnya pada saat jam istirahat atau pun jam pulang kuliah.
Ku menunngunya dengan ditemani secangkir soft coffee, jam sudah menunjukkan pukul 3 sore itu  berarti tak lama lagi dia akan kemari, karena ini sudah jam pulang kuliahnya.
Beberapa menit kemudian, aku pun tertegun, waktu terasa mengikuti detak jantung yg berhenti, tatapan ku seketika terhalang oleh air mata yang masih menggenang di mata ku. Mengapa tidak, aku melihat kekasih ku masuk ke resto ini dengan perempuan lain, dan kasih ku menggandeng tangannya seraya bersenda gurau. Ia tak melihat dan tak tau jika kekasihnya sedari tadi menunggunya dan memperhatikannya.
Aku masih diam, dan terus terdiam. Tak ada lagi kekuatan, raga ini terasa runtuh, jiwa dan hati tlah hancur menjadi serpihan yang tak berarti. Masih ku pandangi mereka, masih ku perhatikan canda tawa mereka dari kejauhan, aku harap ini hanya mimpi buruk ku saja. Tidak ! ini bukan mimpi ! ini kenyataan !
Yang kulihat saat ini semakin mencabik-cabik perasaan ku, aku sudah tak tahan dan tak mampu untuk melihatnya lagi. Emosi ku memuncak, dan air mataku pun terjatuh. Aku mendekatinya, dan memandang mereka lebih dekat. “sayang ! jadi ini ?! jadi ini yang kamu lakukan selama ini?! Hah???” ucapku sambil meneteskan air mata “sayang?” sahut kasih ku dengan tatapan heran dan terkejut. “dengarkan aku sayang, dengarkan penjelasan ku dulu” lanjutnya. “Apa? Apa lagi?? Aku sudah melihat dan memperhatikan kalian sedari tadi ! kau tak tahu itu bukan?! Lebih baik aku pergi sekarang ! maaf aku sudah mengganggu kesenangan kalian” “Sayaaang” ucapnya sambil menahan tangan ku, dengan cepat ku hempaskan tangannya dan langsung pergi meninggalkan resto itu.
Dia mengejarku, dia memohon untuk membuka kaca mobilku untuk bicara sesuatu. Tapi aku tidak menggubris teriakannya. Aku langsung pergi dengan menancap gas mobil ku secepat mungkin. Tangisku tak terbendung, air mata ini tak henti-henti nya keluar dan mengalir dari mata ku, bagaikan air terjun yg siap menghancurkan batuan di bawahnya. Bagaimana tidak, aku yang berniat memberinya kejutan, tapi ini kebalikannya, dia yang telah memberi ku kejutan yang menyakitkan hati ini. Rasa kecewa yang teramat dalam telah membelenggu jiwa. Entah apa yang harus ku lakukan !
Aku tidak langusung pulang kerumah, melainkan ku pergi ke pantai tempat biasa ku lepaskan penat dan kekesalan jiwa. Aku teriak pada riak air laut yang menari di tepian pantai, aku manangis pada hamparan pasir yang ku injak saat ini, aku mengadu pada ombak yang menerjang hati ini. Seketika sirat awan senja menghilang menjadi awan yang berkabung, langit perlahan-lahan menjatuhkan air nya, tiupan angin yang sendu ikut menghempas raga ini.
Aku terjatuh, aku marasa telah terjatuh pada sebuah jurang yang dalam, sudah tak mampu untuk bangkit rasanya tubuh ini, ku merasa sudah tak berarti hidup ini, aku terduduk  tertunduk lesu dengan di iringi guyuran hujan.
Lamunan sedih ku seketika lenyap terkejut, aku merasa ada yang memegang pundakku, aku fikir itu malaikat kematian, tapi ternyata bukan !! dia adalah kekasih ku, bukan ! dia bukan kekasih ku dia adalah orang yang telah membuat hati ini hancur. Ya dia datang menyusulku.
“sayang, aku minta maaf jika ini tlah membuat hati mu terluka. Sayang lebih baik kita pulang, kita bicara di rumah, disini hujan aku takut kau sakit nanti” katanya sambil memeluk ku. “apa pedulimu?? Bukannya kau sudah tak memperdulikan aku? Apa? Kau takut aku sakit? Aku udah sakit , hati aku sakit gara-gara kamu !!!” ucapku sambil melepas pelukannya. “lalu untuk apa kau datang kesini dengan membawa dia???!” lanjut ku sambil manatap sinis perempuan itu.
“sayang, aku gag bisa kalo hubungan jarak jauh kaya gini. Jadi tolong kamu ngerti in aku..” balasnya. “Apa km bilang? Dengan mudahnya km katakan itu? Kenapa kamu gag bisa jaga hati kamu sampai hati ku pun ikut terluka?! Kenapa?! Dan Sekarang kamu minta aku buat ngerti in kamu gtu?!”  Air mata ku tak henti-henti nya keluar dan mengalir dari mata ini. “iya, aku harap kamu bisa ngerti.! Kamu tau? Kamu itu ga pernah ngerti in aku! Perhatian kamu udah gag kaya dulu! Udah berkurang ! di tambah lagi kita jarang banget ketemu! Jadi aku gag bisa kaya gini terus. Jadi aku harap sayang bisa  ngerti in aku..” tambahnya.
“lalu sekarang mau mu apa?” tanya ku lemah. “kita putus, hubungan kita berakhir sampai disini” jawabnya tegas. “dia lebih mengerti aku dari pada dirimu” lanjutnya.
Hati ini terhenyut ketika mendengar kata putus yang terlontar dari mulutnya. “cukup ! kalau itu emang mau kamu, aku bisa ngerti dan aku terima, tapi kamu gag usah banding-bandingin aku dengan cewe itu!” bentak ku sambil terus menangis. “terimakasih atas semua yang udh kamu kasih ke aku,  akan ku kembalikan semua nya. Semua yang udh kamu kasih ke aku, akan aku kembalikan !”  ucapku dengan melepaskan cincin pemberian darinya yang ia kenakan di jari ku dulu.
“sekali lagi aku minta maaf” kata itu yang terakhir kali dia ucapkan dan dia pergi bersama kekasih barunya dengan bergandeng tangan.
Langkah demi langkah ia tinggalkan aku sendiri disini. Hati ku bertanya-tanya, itukah balasan yang ia berikan padaku atas cinta ku yang begitu besar padanya. Aku terpaku pada langit senja yang di hiasi oleh awan yang berkabung. Aku pun berjalan tertatih menuju mobilku, tak bisa ku gambarkan bagaimana suasana hati ku saat ini.
Setelah sampai di rumah, langsung ku rebahkan tubuh ini di atas kasurku. Tangisan ku pun belum berhenti juga. Betapa tidak, aku sudah menjalin hubungan denganya selama hampir 3 tahun. Dan saat ini kandas begitu saja??! Hati kecil ku meraung tak terima dengan semua ini.
Esoknya, kuputuskan untuk kembali ke Semarang, mungkin lebih baik aku disana untuk  menenangkan diri saat ini. Sejak kejadiaan kemarin aku mogok makan dan slalu diam, aku bicara seperlunya saja, itu pun hanya pada si Mbok pembantu di rumah. Maklum orang tua ku jarang berada di rumah, sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Otomatis kondisi badan ku saat ini sedang droph, tetapi aku tetap memaksakan diri untuk kembali ke Semarang hari ini.
Sebelum kembali ke Semarang, aku ingin kerumah mantan kekasihku untuk mengembalikan semua barang-barang yang pernah ia berikan pada ku. Aku tak mau menyimpannya lagi, karena jika aku masih menyimpannya itu arti nya sama saja masih menyimpan luka di hati ku. Tak ketinggalan juga, ku selipkan sebuah surat yang berisikan ungkapan hati ku dan ucapan terimakasih ku padanya.
Ketika selesai mengemasi barang, aku istirahat sejenak merebahkan tubuh di atas kasur. “neng, sarapan dulu ya baru berangkat?” suara si  Mbok dari balik pintu. “aku tidak lapar” jawabku lesu.
Jam sudah menunjukan pukul 10 pagi. “Mbok, aku pergi dulu ya mbok, salam buat ayah ibu kalau udh pulang nanti.” Pamit ku. “ya neng, tapi wajah neng pucat, mendingan besok lagi aja neng balik ke Semarangnya.” Saran mbok. “aku gag papa ko mbok” ucapku sambil berjalan keluar rumah.
Sebelum ke Semarang, mobil ku arah kan ke arah timur menuju rumah mantan kekasih ku terlebih dulu.
Sesampai dirumahnya, ku keluarkan satu kardus berisi barang-barang kenangan aku dan dia. ku lihat rumah ini sepi sekali, seperti tak berpenghuni. Ku coba tekan bell rumahnya, tetapi tak ada respon juga. Mungkin dia sedang tidak ada di rumah fikirku. “mba, cari pacarnya yaa...?” sapa tetangga depannya yg sudah mengenal aku jg, “sudah bukan pacar lagi sekarang” jawab ku singkat sambil tersenyum tipis. “Loh kenapa bisa begitu Mba? Oia, dia pergi ke luar kota mba, dia membawa barang-barangnya banyak sekali, malah sepertinya dia pindah ke luar kota mungkin mba” jelasnya. Aku terkejut dan terdiam sejenak “benarkah? Oh ya sudah kalau begitu, aku kemari hanya ingin mengembalikan ini, biar ku letakkan di sini ya” terang ku. “oh ya mba” jawabnya penuh heran. Akhirnya ku letakkan kardus berisi berjuta kenangan itu di depan pintu rumahnya. Begitupun dengan surat yang sudah ku siapkan, ku selipkan di dalam kardus itu. aku pun langsung menaiki mobilku dan pergi menuju Semarang.
Tatapan ku masih sayu dan seperti tatapan tak bernyawa, dalam perjalanan menuju Semarang, air mata ini masih sempat-sempatnya keluar dan mengalir. Di tambah lagi alunan music yang terdengar DVD mobilku “All by My Self nya Cellin Dion” Makin buat Suasana hati ku kacau. Hingga akhirnya aku larut dalam emosi hati ini yang terus saja meronta, menolak semua yang telah terjadi. Seakan jiwa dan raga ini masih belum bisa menerima kenyataan. Hilang sudah akal fikiran ku, sudah tak dapat ku kendalikan lagi. Ku pacu mobilku dengan cepatnya, semakin ku tancap gas mobilku lebih dan lebih.
Hingga akhirnya, aku membanting setir ke arah kanan jalan untuk menghindari pejalan kaki yang tiba-tiba muncul menyebrangi jalan. Sudah tidak bisa di hindari lagi, hanya dalam hitungan detik dan “BbbrrraaakkKh !” semua itu terjadi seketika. Mobil ku terhantam mobil lain yang muncul dari arah berlawanan, dan terhempas hingga ke tepi tebing.
Segerombol orang berbondong-bondong ingin melihat dan membantu menyelamatkan ku, tapi apa daya aku tlah tak sadarkan diri. Cairan berwarna merah tlah menghiasi wajah dan tangan ku. Dengan cepatnya aku dilarikan ke rumah sakit terdekat. Ku fikir aku sudah mati, tapi ternyta tidak. Aku berada di bawah alam sadar ku, aku koma. Aku masih bisa melihat keadaan sekelilingku dari alam bawah sadar ku. Hanya saja aku tak bisa melakukan interaksi dengan mereka.
***
“kriiing..kriing” telphone rumah ku berbunyi. “selamat siang” sapa si Mbok. “selamat siang, apakah ini benar salah satu anggota keluarga Wenda eka putri safitri?” tanya nya. Yah, nama ku adalah Wenda eka putri safitri, wenda panggilanku.
“iyah benar, ada apa ya? Dengan siapa ini saya bicara?” tanya gugup si Mbok. “kami, dari petugas kepolisian, kami ingin memberitahukan bahwa mobil yang di kendarai saudari wenda mengalami kecelakaan, saat ini dia sedang di tangani oleh petugas medis RSUD. Rembang.” Si mbok terdiam, nafas nya seperti tercekat ketika mendengar kabar ini, mulutnya pun seketika membisu, “ya..yah, terimakasih atas informasinya, kami akan segera kesana” jawab sii mbok sambil tergagap.
Si Mbok pun langsung menghubungi orang tua ku yang sedang berada di luar pulau jawa. Mereka sangat sibuk dengan urusan bisnis mereka. Saat di beri tahu, orang tua ku pun kaget bukan main. Mereka segera memesan tiket untuk terbang menuju rumah sakit yang dimana tempat aku di rawat.
Saat mereka datang, dan memasuki ruang ICU, mereka menangis melihat keadaan ku. Yah jelas saja, keadaan ku sangat memprihatinkan, penuh dengan perban dan jahitan di kepala dan tangan ku. Diriku seperti mayat hidup. Ya, aku masih hidup, namun hanya bisa tertidur pulas, entah kapan aku akan bangun dari tidur panjang ku, atau mungkin aku tak akan lagi melihat cerahnya sinar mentari pagi.
Kekasihku, bukan ! maksudku mantan kekasihku mungkin belum mengetahui keadaan ku saat ini. Sudah satu minggu aku belum juga bangun dari tidur panjangku. Dokter mengatakan kemungkinan hanya 35%  aku bisa sadar dan terbangun dari tidur panjangku. Keluarga ku sudah mencoba menghubungi manatan kekasih ku, namun belum juga terhubung.
Hingga akhirnya,
“Ka, halo raka? Apa ini benar raka?” tanya ibu ku via telphone. Ya nama mantan kekasihku adalah Raka Praditya. “ia benar, maaf dengan siapa saya bicara?” jawabnya. “ini ibunya wenda, ka. Ibu Cuma mau ngasih tau kalau seminggu yang lalu wenda mengalami kecelakaan.” Balas ibuku. “apa? Yang benar tante ? Lalu bagaimana keadaannya sekarang?” tanya nya kaget. “dia saat ini koma, sudah satu minggu lebih dia koma. Tante khawatir ka, tante khawatir.” Jelas ibuku sambil menangis. Ibu ku meminta raka agar datang menjengukku yang sedang terbaring tak berdaya.
Lalu, ke esokan harinya raka pun datang menjengukku. Saat pertama masuk ruang ICU, raka memandang ku dengan mata yang berkaca-kaca. Raka duduk di samping ku, dengan menggenggam erat tangan ku, lalu dia menangis, dia menangis melihat ke adaan ku saat ini. Di dalam ruangan itu hanya ada si Mbok. Orang tua ku sedang kembali lagi mengurusi bisnis-bisnisnya itu.
“kecelakaan itu terjadi sehari setelah kalian bertengkar. Saat itu neng wenda memutuskan untuk kembali ke Semarang.” Ujar si mbok yang memecahkan keheningan di dalam ruangan itu. Mantan kekasih ku masih diam membisu, dia masih tak mampu untuk mengeluarkan kata-kata. Hanya matanyalah yang berkaca-kaca. “sebelum neng wenda pergi ke Semarang, dia menyempatkan datang ke rumah mu terlebih dulu untuk memberikan satu kardus yang isinya pun mbok tidak tahu” lanjutnya. “apa mbok bilang? Dia datang ke rumahku” tanya raka kaget. “iya, apa kau tak tau itu?” ucap si mbok. “sehari setelah bertengkar dengannya, aku langsung meninggalkan rumah dan mengosongkannya, aku pulang ke Padang saat itu.” Jelas raka. “jadi kau tak tau?” tanya si mbok.
Seketika ruangan itu pun menjadi hening kembali. Mantan kekasih ku masih menggenggam dan memandangi wajah ku, berharap aku untuk sadar. Di dalam alam bawah sadarku, aku berusaha keras mencari cahaya agar aku bisa membuka mata ku lagi. Namun usahaku belum juga membuahkan hasil.
Hingga akhirnya aku menemukan cahaya itu. Perlahan sangat perlahan ku buka mata ini. Mata yang sudah lama tak aku buka, selama 2 minggu lebih mata ini selalu ku penjamkan, akhirnya aku terbangun dari mimpi panjangku. Terasa hangat tangan ini, ketika tergenggam oleh nya, ku gerakan tangan ku yang akhirnya membangunkan mantan kekasih ku dari tidurnya.
“nda, wenda? Kamu udh siuman?” ucap raka terkejut dengan mata yang berbinar. Aku belum sadar benar, kepala ku sangat terasa sakit. Ingin ku ungkapkan sesuatu pada mantan kekasih ku, namun jangan kan berbicara untuk melihat pun masih terlihat samar di sekelilingku. Masih ku coba memaksakan diri untuk bicara, walaupun terbata-bata “raka, a..ak..aku masih sa...yang ka...m..muh, ak...ku minta maa....af...” ucapku yang terpogoh-pogoh, air mataku mengalir dari sudut mataku. Aku menatapnya dalam-dalam walau samar yang kulihat. “sayaang, aku juga sayaang sama kamu.” Jawabnya. “ka,.. ss..sakit...ka, gag ku..aatt..” lanjutku dengan lemahnya. “Kamu harus kuat. Kamu harus sembuh. Harus sembuh nda..” jelas raka sambil menangis menatapku dan menggenggam erat tanganku.
Kondisi ku semakin parah, darah tiba-tiba saja mengalir keluar dari hidungku. Dan aku pun kembali tak sadarkan diri. Si Mbok langsung memanggil dokter untuk segera menangani ku.
Namun, takdir berkata lain. Dokter pun datang dan langsung memeriksa keadaanku, kemudian dokter mengatakn bahwa aku telah tiada. Malaikat pun membawa ku keluar dari raga ku. Malaikat membawa ku ke alam yang lebih tenang. Aku menghembuskan nafas terakhir ku. Aku masih bisa melihat, suasana haru sangat terasa di sana. Aku melihat mantan kekasih ku menangis dengan memeluk erat tubuh ku. Tak henti-hentinya dia menangis. “nda, wenda..! wenda sayang. Kamu bangun.. jangan tinggalin aku untuk selamanya ndaaa,.. banguuun nda..” ucapnya dengan suara yang kian melemah. Tatapan matanya yang kian sayu.
Suasana di ruangan itu pun seketika menjadi berkabung, ibu yang baru datang lengsung tak sadarkan diri ketika melihat keadaan ku yang sudah tak bernyawa. Raka pun terus manangis seraya berkata “ndaaa,,, wendaa sayaaang. Jangan tinggalkan aku untuk selamanya nda, wendaaa....”
***
Setelah pemakaman ku selesai, raka pulang ke rumahnya. Dia jalan menuju pintu dpan rumahnya dengan tertatih. Di hadapannya terlihat satu kardus kecil, dan kemudian dia buka. Raka pun kembali menangis ketika melihat isi kardus tersebut yang ternyata berisi barang-barang yang penuh akan kenangan antara dia dan wenda. Air matanya pun kembali terurai. Dia jatuh terduduk lesu dengan memandangi isi dalam kardus tersebut.
Terselip sebuah surat. Kemudian dia membuka dan membacanya
>>> dear raka ku sayang
Sayang, aku telah menepati janji ku untuk mengembalikan semua barang-barang yang udh kamu kasih ke aku. Aku sengaja mengembalikan semua ini pada mu, karena aku tak mau membuang atau menyimpannya lagi. Karena jika ku menyimpannya, itu sama saja ku menyimpan luka akan kenangan kita dulu yang saat ini telah berakhir kandas begitu saja.
Sayaaang,, aku minta maaf jika slama ini aku tlah berubah, perhatian ku tlah berkurang, aku minta maaf karena aku tlah mengecewakanmu. Mungkin ini adalah pertemuan terkhir kita. Aku harap, aku masih terekam dalam susunan rapih memory ingatan mu, dan kamu masih mengingatku sampai aku tiada nanti.
Sayaang, terimakasih atas semua yang udh kamu kasih ke aku. Ada satu yang ingin aku sampaikan pada mu. Tolong jaga perasaan kekasih baru mu yang sekarang yah? Tolong jangan sia-siakan dia. sayangi dan cintai dia dengan setulus hati mu.
Aku akan bahagia jika kau bahagia....
 
Mantan mu
 
Wenda E P
 
Tetesan air matanya pun mengalir dengan begitu derasnya saat membaca surat dari mantan kekasih nya itu. Kemudian dia melihat lagi kedalam isi kardus tersebut. Kemudian dia mengambil sesuatu dari dalam kardus tersebut dan membuatnya sangat terpukul. Dia mengambil setangkai mawar merah yang terbungkus yang telah layu. Dengan kelopak daun yang telah kering mencoklat. Dia ingat, dia sangat ingat. Itu adalah mawar yang terakhir ia berikan pada wenda. Karena terdapat kartu ucapan yang menempel pada bunga mawar tersebut.
Mengalirlah sudah air mata raka dengan tiada hentinya.
Ada rasa sesal yang menyeruak sukma dan jiwa yang kini ia rasa. Tersadar ia akan pentingnya seseorang dan berartinya seseorang bagi hidupnya. Perasaan itu muncul ketika dia tlah pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya.

*Creaed by Yopi Nuraini
Facebook   : Yopi Di Cini
Twitter
        : @Yoppynuraini
Blog            : Yopinuraini.blogspot.com
Yahoo        : Yoppy.Nuraini

Ditulis Oleh : Goresan Hati Hari: 23.01 Kategori:

0 komentar: