Kumpulan sastra indonesia

Jufri Zaituna


Jufri Zaituna, lahir di Sumenep, Madura, 15 Juli 1987. Puisi-puisinya pernah dimuat di Majalah Sastra Horison, Koran Harian Jogja, Koran Merapi, Minggu Pagi, Kedaulatan Rakyat, Suara Pembaruan, Jawa Pos, Seputar Indonesia, Suara Merdeka, Kuntum, Muara dan beberapa antologi bersama: Ya Sin (PBS, 2006), Merpati Jingga (PBS, 2007), Annuqayah dalam Puisi (BPA, 2009), Mazhab Kutub ( Pustaka Pujangga, 2010), kumpulan cerpen pilihan koran Munggu Pagi Tiga peluru (Trataq Media, 2010), Penganten Tamana Sare (Bawah Pohon, 2011), dan Antologi Puisi Suluk Mataram: 50 Penyair Membaca Yogya, (GREAT Publishing, 2012). Sekarang tinggal di Bantul, Yogyakarta.
No HP: 088216323119


Pagi Waktu Sore


jangan sekali-kali kau tanyakan pagi
sebab wajah bugar matahari tak pernah ku lihat
sebab aku baru gosok mata dan belum gosok gigi
gigiku masih malam, malamku selalu siang

pantaskah aku mengucapkan selamat pagi?
bila tak ada seorng pun yang mengajakku pulang

dalam kamar, dinding pengusir tangisan
kekaguman tersesat pada warna-warna cat tembok pudar
sepudar usia tumpah sepanjang ibadah yang kian rapuh
mata buta tak tau arah
jendela seolah jauh. kemana mesti mata berlabuh
tak ada suara, selain tetes air mata sendiri yang seolah menjadi kutuk
bagi kegilaan yang semakin jauh melangkah
menapaki ruang-ruang singgah

2010


Kabar Semalam Bagi Masa Silam


1.
semalam puisiku tak selesai-selesai mandi
tanpa sehelai makna terurai
kebeningan mata air hanya menghadirkan kekeruhan
dan lumut-lumut usia kian menjalar di bongkahan kepala
bertahun-tahun hanya menjadi tempat pencucian
bagi baju-baju hari yang selalu kotor
ibu-ibu mencuci kutang, perawan-perawan membasuh isi kutang
bapak-bapak mencuci celana dalam, remaja memandikan burung belukar

2.
semalam duka itu datang namun makna masih terpendam
sedalam derita menggali keriuhan tangis tak sampai-sampai
hati kian berdebar dalam kebisuan takdir
mengiris dada berkeping-keping
seperti petir panjang menyibak langit yang tak mau ada kehilanggan
usia menggugurkan putik-putik perasaan
menyulut semerbak impian
kegamangan jalan tak berujung
menyergap keinginan untuk segera sampai pada tujuan
namun selalu tertinggal
sebab letih dan pedih dalam remah-remah kisah
menyisakan peluh kesah bagi pertanyaan yang muncul:
apakah masa lalu masih menungguku?

2010

Reportase Kampung

1.
perermpuan-perempuan penunggu kaca
sapaannya penuh gairah
pakaian mencolok di tubuh padatnya
mencolok seperti tawanya menebar pesona
bibir bergincu mengalir senyum kurang ajar
membuah si gila makin gila

2.
rumah lelaki itu tampak sepi. seakan sayu menikam-nikam
hanya ujung atap dan tonggak bambu
yang tampak perempuan berjalan tergopoh-gopoh
menuju surau kecil, tempat lelaki itu duduk bersiul
mempermainkan burung perkututnya di dalam sangkar
tergantung di depan rumahnya yang samar
namun tak lama sunyi pecah oleh teriakan
seiring asap mengepul dari tubuh lelaki meraung dari kobaran

2010


Membaca Taman

ambillah duri-duri itu
lalu tusukkan atas nama mawar
agar semerbak kesakitan
kembali beraroma keabadian

lalu ceritakan padaku tentang kumbang
agar semua kemungkinan datang
mereguk dengung musim
mengitari kebimbangan

selagi taman tak lagi bermakna pertemuan
menerbangkan putik-putik kerinduan
dari sisa kata yang kian tumbuh menjalar
mengikat erat peristiwa lampau

sebab harapan kian layu
dihinggapi kupu-kupu
yang ingin menjadi kepompong
seiring lebah-lebah lupa sarang

2011


ALA ROA DAN DIRINYA

lembar demi lembar telah kau habiskan
untuk segera sampai di ujung penantian
sampai kau tak paham, bahwa gema kata
hanyalah ketukan keterasingan
dari ruang tubuh tersekap kebencian
juga getar rasa memabukkan kesendirian

segenggam debu kesakitan berhamburan
dari beratus-ratus jalan hati keraguan
mengancam pemburuan demi pemburuan
tiada akhir

berhembus dari arah ketidaksempurnaan
kata-kata merangkak mencari makna keabadian
dari patahan-patahan tawa berderak cepat
seperti kilat yang merobek mulut langit
seperti jalan kematian yang tak pernah kau temukan
selain kau terus memohon berjuta harapan
menjumpai keabadian yang lain

adakah kau masih berharap untuk terlahir kembali
seperti cahaya yang memancar dari rahim sepi
sebab makna kian tiada
untuk menampung kegelisahan berlumut biru
otak sekeras batu-batu

2011


Tarian Doa
sampai mulut berbusa dusta
tersumpal doa-dosa
jatuh terhempas menjadi humus
menjadi batu tua menganga

mengamini batas tangis
tandas ditelan kabut permintaan
derita semakin lengang
menjadi kitab-kitab persembahan

telah berulang kali membacanya
dengan kekhusyukan tiada tara
sampai menyeret pilu pintu tiada
sambil mendesah resah
sekujur tubuh basah firman setia

2011


Hujan Darah

ingatan ini masih basah
untuk mengenang tempat berteduh
ketika teriakan hujan darah
mengguyuri tanah merekah

lambaian dendam
menyibak wajah sumringah
kesedihan berceceran
sepanjang kepulangan

2011

Matroni el-Moezany


Kelahiran Sumenep, antologi puisi bersamanya bisa di lihat “Kitab Puisi, Puisi Menolak Lupa, Obsesi Press, 2010” antologi puisi bersama “Mazhab Kutub” Pustaka PUjangga 2010, dan antologi cerpen bersamanya bisa di lihat “Bukan Perempuan, Obsesi Press, 2010” “Randesvous, di Tepi Serayu, Obsesi Press, 2009”. Kini tinggal di Pengok, Yogyakarta. HP: 085233199668

Puisi-puisinya antara lain :


Di Tepi Sunyi

Sepinya kamar ini
mengitari cakrawala
Menyetubuhi bayang-bayang
Kata sebagai pendamai
Tak jua hilang
Terhapus jejak sepi
Yang lama di telan malam

Imaji itu
Tak mampu kutahan
Lantaran sepi
Terus mengapit kesendirian

Kubiarkan, lelapku tak datang
Kupinjam angin, aku dingin
Kupakai selimut, aku keringat

Di sana
Kutidurkan tubuh
Supaya tenang dalam menyelami kesepian

Yogyakarta, 2010


Sebelas Hari Berpisah

Di tanah ini engkau selesaikan pengetahuan
Selesaikan jejak tepi surau
Kau sisakan semangkuk bekal
Untuk menginjaki matahari dan hari-hari

Kusimpan bekal itu di kamar
Sebagai persediaan menyambut perhelatan waktu

Tiap hari kupanaskan bekalmu agar tak basi, lalu
Kubagikan pada anak-anak asuh di pintu bangsa
Dan di belakang istana

Pengok, 19, Mei 2010


Negeri Tua

Aku tak nyangka
Baru kutahu
Negeri yang kudiami, yang dulu ranum
Telah tua dan gersang

Dan tubuhku yang tersisa di sana
Hanyalah gelisah angin istana
Menyampaikan surat permohonan negeri tua
Ke jejak pertemuan matahari

Negeri tua nyaris mati
Tapi betapa rumitnya
Diludahi kaum berdasi
Dan tanah yang merana
Anak-anak berpelukan keringat
Untuk tetap menyampaikannya

Negeri tua yang kudiami
Begitu rawan perampok
Jiwa dan suara senjaku
Mencoba jadi air dan pupuknya
Mungkin biru kembali
Kupu-kupu akan singgah di sini
Selain burung seram
Yang merobek-robek untuk mati kembali

Rakyat puisiku
Mencari nafkah di sana

Tubuh negeri tua
Berdiri sendiri
Adakah negeri tua, kembali
Untuk lebih tua dari bayang-bayangnya

Jogja, 20 Mei 2010


Kisah Negeri Tua dan Negeri Muda
Sungguh tak sanggup
Menghadirkan orang kuat
Ketika kedua negeri itu berkecamuk
Dengan bayang-bayang menakutkan

Langit pun pecah di negeri ini
Menampik lagu anak-anak jalanan
Sementara negeri disuguhi makanan lezat
Lagu wajib dari negeri lapar

Jika ada yang kuat, dan jika engkau memang jujur
Ne, dua negeri mau, engkau jadi bapaknya
Dan engkau pulas tidur di ranjang istana

Tapi mampukah engkau
Dengan godaan orang-orang negeri ini
Dengan nyanyian menjanjikan

Jangan menangis sayang,
Negeri ini masih ada yang merawat
Walau perawat itu sibuk dengan dirinya
Hingga di pertemuan kita
Dengan keadilan yang penuh makna
Disilahkan kalian tidur
Di ranjang kedua negeri kami
Dan terpaksa kuserahkan luka-luka
Ke perawat yang tak semestinya

Negeri ini, negeri kering
Masa depan mati dalam saku
Sebab orang-orang itu masih hidup
Dan bermain di sini
Karena belum minum arak dan bir untuk mabuk dan gila
Untuk menyanyikan lagu negeri ini dengan indah

“Susu negeri ini manis, roti cokelat ini juga manis sayang
Jangan menangis di dua negeri ini”
Karena airmatamu
Tak mampu menghidupkan kembali negeri yang sudah mati

Yogyakarta, 2010

Mutia Sukma



Mutia Sukma lahir di Yogyakarta 12 Mei 1988. Kuliah di FBS, Bahasa & Sastra Indonesia Universitas Negeri Yogyakarta. Selain menulis perempuan yang suka membaca puisi ini juga menekuni dunia teater, menulis cerpen, puisi, dan catatan lepas. Terlibat di beberapa komunitas sastra dan petunjukan sekaligus, di antaranya; Sanggar Sastra Indonesia Yogyakarta (SSIY). Mendirikan Kelompok Belajar Rejowinangun (KBR) untuk anak-anak di tempat tinggalnya. Beberapa kali memenangkan lomba penulisan juga pembacaan puisi. Beberapa tulisannya pernah dimuat di Suara Pembaruan, Bali Post, Minggu Pagi, Gong, Jurnal Sundih, Pawon Sastra dll. Tulisannya tergabung dalam antologi bersama di antaranya; Segitiga Cinta (2005), Jalan Masih Panjang (2005) keduanya merupakan naskah drama. Juga dalam antologi komunal Hari Ini Tak Ada Hujan Turun (2007) dan Pelabuhan Desember (2007). Sajak-sajaknya bisa ditemukan di mutiakoto.blogspot.com


Sajak Sentimentil


kisah yang gaib

tibatiba berada disini
saat kutengok ke belakang
bandul jam mengayun
masa kelam

kau sebut ia
sesering kau sebut namaku
kau sebut namamu
melangkahi garis paling merah
pada diri
pada kelopak matamu
kutemukan sahara yang hangus
entah menjelma apa namanya

tak pernah bisa
kau telan kina itu
panasmu tak pernah sembuh
berlompatan diantara celcius
yang berkeringat

setiap hari selalu kau lewati
jalan yang sama
namun tak pernah kau
temui kisah yang sama

kisah yang gaib


Semacam Dendam

semua terasa semacam dendam
kau dan mereka menatapku dengan curiga
dengan rasa marah yang tak dapat kugambarkan
aku hanya ingin menatap diri
berhitung tentang banyak hal
dan merapatkan tubuh pada barisan angkaangka
tapi kau dan mereka mendengar
tangisanku serupa nyanyian
melengking panjang

aku hanya butuh pelukan
di mana ia menyayangiku dengan tandatanda
aku tak akan meminta banyak hal
karena aku merasa memiliki begitu banyak
hanya kepercayaan
yang tak pernah kudapatkan dari kau dan mereka
padanya kutemukan kesakitanku terasa
di tubuhnya

seperti hujan pagi ini
kutemukan genangan dicuram pipi
kau dan mereka
tapi aku tak pernah merasakan apaapa
tak ada yang tergetar dan ingin digetarkan
semua terkecap begitu tawar

beri aku rasa yang lain,cintaku
seperti waktu pertama kali
kau bertemu denganku
lalu merayu dengan bahasabahasa alam
tapi kalian selalu menatapku
dengan kuburan kemarahan
kemarahan yang membuatku
terjebak dan pincang

dengannya, ia selalu memberitahu
semua yang belum aku ketahui
dan yang sudah aku ketahui
akan kami rundingkan pula


november,2007

Syaiful AMK

Sedopati




(Yogyakarta)

Nama sebenarnya adalah Sukandar, lahir di Ngawi. Tertanggal 20 Ramadhan 1401 H. sekarang masih menempuh sekolah di jurusan Konservasi Sumberbudaya Hutan. Fak. Kehutanan UGM. Pernah numpang aktif di JS UGM, KMIK FKT UGM, BEM Fak. Kehutanan UGM, juga pernah sehari singgah di BEM KM UGM. Pernah terlibat di Komunitas Senthir Qalbu: jama’ah malem Jum’at (JMJ) FKT UGM, juga pernah nyantrik di HMI, di komunitas rebana mahasiswa ‘Nada Husada’ FKT UGM. Sekarang ini sebagai ketua Komunitas Puisi Pro jogyakarta (sebuah komunitas puisi radio di RRI jogyakarta). Berproses dengan komunitas puisi pro jogyakarta. Beberapa puisi pernah dimuat di jurnal sastra Belle HMI Cabang Sleman Jogyakarta, majalah Sabili, serta pernah dibedah dan dikritik dalam acara bincang-bincang sastra Studio Pertunujukan Sastra Jogyakarta oleh Iman Budi Santosa. Salah satu puisnya :


Di Punggung Merapi
: perempuan-perempuan merapi

Kau panggul di atas punggung seikat pada rumput
yang berlapis kabut. Perlahan kau turun menyibak
semak berjejak setapak. Tak ada tetes peluh
yang sempat jatuh, sepertinya ia langsung bersetubuh
dengan ruh. Juga tak ada keluh yang berani berlabuh

tampaknya iapun segan dengan langkah yang kukuh
Akar-akar di sekitar merapuh. Ayunan goyang ilalang
menghilang. Dan kabut tersaput waktu kau tengadahkan
wajah mencari di mana sang mentari sedang berjaga

Kaki terus kau ayun, melangkah bergegas turun
tak ingin kau terlambat mengusap wajah si bocah
yang sering gelisah sepulang sekolah. Juga tak hendak
kau dengar lenguh riuh sapi yang resah menanti

yk, oktober 2005

Triyugi Rizki Windarsi




(Yogyakarta)

Lahir di Pulau Bunyu, 17 Maret 1981. Asisten peneliti untuk penelitian beberapa dosen Sosiologi, Fisipol, UGM (2002-2003). Mengajar privat bahasa Inggris sejak Oktober 2003 sampai sekarang. Salah satu dari 10 pemenang hadiah hiburan melalui Karikata, Kompas Karikatur dan Karikatur Award, diselenggarakan oleh Kompas (Juni 2004). Salah satu dari pemenang 4 besar Yogyakarta (15 besar nasional), Perempuan Penulis Naskah Drama, diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta dan ISI Yogyakarta (Januari 2005). Artikel Pentingnya Kesadaran BBM, dengan tema Alternatif BBM, Rubrik Forum Akademia, Kompas edisi Yogyakarta (7 Oktober 2005). Salah satu puisinya :

Penjaga Kebun

Kami hanya penjaga kebun
Kebun yang pernah kami beli tiga puluh tahun yang lalu
Yang selalu kami usahakan pengelolaannya
Dari menanam sampai menyemprot hama
Yang setiap tahun buahnya kami jual

Kami ini hanya penjaga kebun
Yang tidak pernah percaya akan ilmu pasti
Hingga suatu saat kebun kami tak berbuah
Walau seperti biasa kami sirami
Pelajaran selalu datang kepada kami
Karena setelah berupaya, hanya menunggu yang kami mampu
Kemurahan dari pemilik kebun itu
Yang hanya berikan kami satu kesulitan di atas dua sembilan
kemudahan

Jadi, kami ini hanya penjaga kebun
Yang tetap akan menunggu
Sampai hari yang terbatas bagi napas

Sige Haryadi


(Yogyakarta)

Lahir di Jogyakarta, 15 Desember 1969. Menyelesaikan S1 di jurusan Arkeologi UGM. Penikmat sastra dan budaya, selain menulis juga menekuni fotografi, sekarang berdomisili di Jogyakarta. Salah satu puisinya :

Engkaukah Juliet * Itu?

Engkaukah itu?
saat senja gelap meracuni hutan kosong dan kupu-kupu bersayap
hitam terkapar di telaga
kering sunyi
jika ya,
berlarilah kau menjauh mencabik mimpi panjang mengusir angin ke
persembunyian
purba: ranting pepohonan rapuh
sebab ada masa ada kala duka tak tertepis angin
sebab ada masa ada kala angin terbius bisu

Engkaukah itu?
serigala terasing yang melolong di perbukitan sepi
tersisih dari perjalanan panjang tak kenal musim:
memang terkadang cinta tak mengenal jalan pulang
memang terkadang cinta tak akan beringsut dari rindu hampa
yang terombang-ambing
itulah persimpangan tempat kebingunagn menyatukan arah barat timur
utara selatan
jika ya,
bersampanlah menuju muara, singgah di delta, kemudian terbang bersama
bersama camar terbius
angin laut
(tapi engkaukah Juliet itu?)

Juliet*: terinspirasi dari cerita Romeo dan Juliet

Jogyakata, 2005

Ditulis Oleh : Goresan Hati Hari: 06.31 Kategori:

0 komentar: