Cerpen :: Secuil asa dibalik sepotong chatting

  MALAM ini aku tak bisa tidur nyenyak, ada sosok yang terus membayang dan mengikuti kemana pun ku pergi. Sosok yang tak lagi asing dan membuat tubuhku gemetar kala sosok itu hadir dan sirna begitu saja. Sedang aku tak bisa sejenak pun menghindar dari sosok mengganggu itu.

Semuanya berawal ketika suatu hari aku mengganti photo profil facebook, ada satu akun milik seorang pria yang mengomentari photo profilku. Pria -yang aku tak tahu siapa ia- ini sering sekali merespon statusku baik berupa like maupun komentar.

Sejak saat itu, kami jadi sering berkomunikasi via facebook. Semakin lama kami semakin akrab, obrolan yang tadinya sekedar obrolan ringan mulai berkembang menjadi candaan dan akhirnya kamipun saling berkenalan.Tak cukup hanya di facebook, perkenalan kami pun berkembang melalui sms dan telepon.

Dia adalah pria kelahiran 1992 asal Tasikmalaya kotaku tercinta, dan saat ini berkerja sebagai drafter di sebuah perusahaan di Kota Tangerang. Sama halnya seperti ku, dia baru saja lulus SMA.

Suatu ketika ada pesan masuk melalui skype.
12 Februari dia memberi tahu bahwa dia akan pulang tanggal 29 Maret dan itu artinya kami akan mempunyai kesempatan untuk saling bertemu. Dan aku tak berani membayangkan wajah laki-laki yang baru saja ku kenal ini. Meskipun sebenarnya aku sudah melihat di akun fb nya, tapi bisa saja kan kenyataan nya dia lebih jelek atau lebih ganteng. heheh tuh kan jadi nebak-nebak deh

Sejak saat itu kami mulai intensif saling menanyakan kabar, sampai saling  memperhatikan jadwal makan, jadwal sholat, sampai tidur.
Mungkin aku yang terlalu ke PEDE an, aku merasa di perhatikan, entah dari segi apa tapi aku merasa nyaman dengan komunikasi yang kami lakukan, walaupun saat itu hanya via facebook.
Dan hari-hari selanjutnya, aku mulai rutin mengunjungi Wall pria yang belum pernah kujumpai wujudnya ini. Sering kali aku membuka facebook hanya untuk melihat kabarnya, melihat statusnya, atau kadang hanya berusaha mencari-cari foto terbaru tentang dia. Dan itu aku lakukan hampir setiap hari. itulah kebiasaan yang baru saja kumiliki setelah mengenalnya. 

"Kangen"
Aku sampai kaget, ketika melihat pesan itu tertulis jelas di inbox fb ku. Jantungku berdegup kencang, dan rasa tak karuan muncul begitu saja, dalam hati aku ucapkan 'iya, aku juga'

Saat membacanya, ada setitik rasa mulai tumbuh dan begitu cepat menyeruak ke relung asa, entah rasa apa, tapi yang jelas, aku merasa bahagia.

":), makasi, aku juga!"
 Sejenak aku mulai menerka-nerka, apa sebenarnya yang sedang ia lakukan sampai-sampai dia bilang seperti itu. Apa dia sedang membuka-buka dindingku? atau dia sedang melihat foto-foto ku? tapiwhatever lah . . Aku hanya tau, aku bahagia dia rindu padaku, dan akupun sama.

Hari yang kutunggu tiba, 30 Maret
Hari itu dia jadi pulang dan berencana akan menemuiku pukul sembilan pagi, tapi hari itu baik aku maupun dia sama-sama punya kesibukan, dan akhirnya kami baru bisa bertemu pukul sebelas siang. 

Rasa senang, penasaran, deg-deg an, takut, campur aduk singgah di hatiku. Mungkin juga sama halnya dengan dia.Orang yang aku kenal dari facebook, lewat chatting akhirnya akan kutemui hari ini. Aku tak tahu nanti harus memulai obrolan dari mana, entah harus berkata "Hai?" atau "Assalamu'alaikum?" atau "Akhirnya ketemu juga" dan ahhhhh . . aku menyerah . . rasanya jantungku mau copot . . Belum lagi baju yang saat itu aku kenakan seharusnya lebih casual. Tapi aku malah memakai baju yang biasa aku kenakan untuk rapat-rapat resmi, karena memang sebelum kami bertemu ada rapat yang harus aku hadiri di salah satu kantor media masa terkemuka di Tasikmalaya. 

Detik bertalu, menit memburu . . rasa penasaranku tak kunjung usai ketika aku menantinya di Bypass Kota Tasikmalaya. Dia tak kunjung datang, padahal aku pikir, aku yang akan datang terlambat. Tapi ternyata hingga lima belas menit aku menunggunya, ia tak jua tampak.
Aku mulai resah, 'apakah dia tak akan datang?'. Aku pun sibuk memainkan nots-nots di hp ku, bertanya dia sedang dimana. dan akhirnya . . tampil lah sosok pria tinggi, hitam manis, dan senyum yang memesona.

Jleb . . seketika jantungku makin cepat memacu, tanganku yang dingin semakin dingin, kami pun bersalaman. Kata-kata yang sejak tadi berusaha ku rangkai pun mulai beterbangan seraya dengan debu-debu yang diterbangkan angin. Aku melihat keringat bercucuran di pelipisnya, ku sarankan untuk mencari tempat berteduh agar dia dapat sedikit beristirahat.

Sepanjang jalan kami tak banyak bercerita, terlebih karena ini kali pertama kami bertemu, aku pun agak canggung karena memang ini adalah pengalaman pertama ku bertemu dengan pria yang tak ku kenal.

Sampailah kami di tempat tujuan -Asia Plaza-. Lantai tiga jadi buruan kami selanjutnya, dia menawarkan ku makan, tapi aku merasa perutku ini masih terlalu penuh untuk ku isi. akhirnya dia membelikanku sebotol minuman ringan. Obrolanpun kami buka dengan tawa. Entah apa yang kami tertawakan, entah gelli melihat tingkah kami yang malu-malu, atau apalah . . aku tak tahu dan tak mau cari tahu ..  hehehe  . . 

Dia mulai menanyakan hal-hal yang pribadi tentangku, seperti rumahku dimana, berapa bersaudara, lulusan SMA/SMK mana, dan lain sebagainya. Dan satu hal yang membuatku nggak bosen dari obrolan kami yang cukup panjang itu, adalah dari cara dia berbicara. Cara berbicaranya membuat ku merasa gemas, celotehnya, canda nya. ahhh . . pokoknya lucu deh.

Sejam lebih kami bercerita, dia kembali menawariku makan, dan akhirnya aku mengiyakan. Beberapa menit menunggu, akhirnya dua piring mpek-mpek pun mendarat diatas meja. Kami pun mulai menyantap sambil kembali bercerita. 

Hupt, aku hampir saja tertawa, melihat tingkah nya ketika makan, hihi bibirnya itu lho, kaya anak kecil . . tapi lucu kok, makannya lahap, walaupun kata dia mpek-mpek nya gak enak. hehe . . 

Usai makan kami pergi ke masjid karena waktu itu sudah memasuki waktu Ashar. Usai sholat kami kembali ke tempat semula kerena rupanya dia mengajak dua orang teman SMA nya. Melihatku canggung di depan teman-temannya, dia pun mengajakku ke Gramedia, mencari buku yang dipesan adiknya, sambil bercanda kami melihat-llihat isi toko buku itu mulai dari novel-novel Sherlock Holmes, novel remaja sampai resep-resep masakan yang banyakditongkrongin sama ibu-ibu.

Aku pun merasa tak ada lagi yang dapat aku lihat disana dan mengajaknya untuk segera pergi. Setelah itu dia mengajakku main di salah satu arena permainan. Kami bingung mau main apa, akhirnya dia berinisiatif untuk mencoba permaianan mengambil boneka-entah apa namanya. Haha . .  tapi dia tak cukup lihai untk mengambilnya, hingga kami putus asa dan kembali ke tempat teman-temannya berada.

Lama berbincang kami memutuskan untuk menonton, saat itu ada dua film yang jadi suggestion. Ada Tampan Tailor, dan Madre kedua film ini sama-sama diperankan oleh aktor Vino G. Bastian pemeran Realita Cinta Rock and Roll. Akhirnya dengan penuh pertimbangan kami memilih Tampan Tailor. 

Pengalaman pertama ku nonton film sama cowok manis malam minggu, hihi walaupun kami tak hanya berdua. tapi setidaknya kami bersama.
Haha aku tertawa ketika melihat termnyata film yang kami ramalkan akan jadi film komedi ternyata adalah film drama yang bener-bener dramatis. Ya ..  tapi aku tak kecewa sedkitpun, karena yang ada disebelahku ini adalah orang yang amat menyenangkan. 

Akhirnya sesi menangis pun tiba, adegannya saat si Topan diterima bekerja disebuah perusahaan pembuatan jas yang mengekspor jas ke luar negeri di fitnah oleh manager nya sendiri karena iri terhadap hasil kerja Topan yang sangat memuaskan.Sepanjang adegan itu, aku lebih banyak memandang cowok manis yang nampaknya sedang khusyu dengan film yang kami tonton. Mungkin ia tak menyadari sedikitpun apa yang aku lakukan saat itu. Sungguh aku benr-benar terpesona dengan caranya memperlakukan wanita, caranya mempersilahan aku duduk, saat dia berusaha membuatku tetap nyaman ketika teman-temannya bergabung dengan kami, dan masih banyak hal lain yang membuatku kagum dengan sifatnya.

Film pun usai, suara gemuruh yang kami dengar menandakan bahwa cuaca diluar sedang hujan . . Kami memutuskan untuk menunggu sejenak hingga hujan reda. Beribu kata terungkap saat itu, mulai dari impian-impian kami masing-masing, sampai rasa senang karena kami dapat bertemu dan berkenalan sedekat saat itu.

Tapi hujan ternyata tak mau kalah, dan akhirnya kami  memutuskan untuk pulang saja.

Entah mengapa waktu begitu cepat berlalu, ingin rasanya mengulang detik-detik yang kulewati berdua dengannnya. Hari yang membuatku merasa istimewa dengan perlakuan dan gaya nya berbicara. Hari yang membuatku begitu semangat dan ceria. Hari yang . . ah . . sudahlah . . hari itu hanya dapat kukenang dalam hati

Hujan mengiringi langkah kami pergi, dengan hati yang masih berbunga, dengan rasa yang seakan tak henti bersua, kami mengakhiri pertemuan dengan hati bahagia.

Sesampainya di rumah, senyumku terus mngembang, membayangkan wajah orang yang baru saja kutemui, senyum nya, perlakuannya, masih dapat terbayang jelas hingga mata terpejam. Tapi ada setitik pertanyaan yang mulai singgah dan menghinggapi hati, akankah kami akan kembali bertemu? akankah aku dapat melihat raga itu lagi? entah siapa yang kan menjawab semua pertanyaanku. apapun yang kan terjadi, bagaimanapun keadaannya nanti, biarlah itu menjadi rahasia yang akan ku ktahui bila waktunya tiba. Semua akan indah pada waktunya. cieee

Hari itu pun berlalu, semua yang telah terjadi kusimpan dalam hati. kekagumanku, peraasaanku. aku tahu berbagai kemungkinan akan terjadi. Mungkin semuanya akan mengalir ke sungai harapan dan berakhir di lautan kekecewaan. Mungkin juga dia akan membalas, itu yang kuharapkan. Tapi lagi-lagi hanya tuhan yang tahu.

Setelah pertemuan itu kami kemabali ke aktivitas masing-masing. Aku kembali menjadi mahasiswi biasa, mengerjakan tugas, dan dia kembali bekerja.

Namun bedanya, dia semakin jarang memberi kabar, baik via fb, maupun via sms. Kabar terakhir yang ku ketahui, dia senang dengan pertemuan kami, dan mengupload sebuah foto tentang pertemuan kami kala itu. Semakin hari dia semakin berbeda, Aku tak tahu mengapa, mungkin pertemuan kami membuatnya kecewa. atau apalah. Aku tak tahu. 

Setiap hari aku menunggu pesan nya di facebook, di handphone. Akhirnya aku menyerah. Aku mengirimkan pesan melalui facebook, memberinya perhatian, kadang berupa motivasi karena aku melihatnya sedang sakit. itu pun aku tahu dari facebook barunya. Sedih rasanya melihat dia seperti ini. Tak seperti dulu, tanpa rasa canggung kami selalu saling memperhatikan. Tak seperti saat ini, aku merasa dia begitu jauh, hingga kabarnya tak lagi ku ketahui. padahal hanya sekedar kabar.

Malam ini, dinginnya malam terasa semakin menusuk. Aku duduk di ruang tamu, tempat yang dulu dia duduki. Rasanya tak sama, aku merasa hampa.



(for people who had met, I realized my heart was anchored to you. But Iaware too late. I knowing after you're gone)

oleh: Ai Rita Rizqiah -
email:<airitarizqiah21@gmail.com>

sebenarnya bukan sekedar cerpen si, tapi nyata pengalaman pribadi saya, 

Ditulis Oleh : Goresan Hati Hari: 01.15 Kategori:

0 komentar: