CERPEN-SETANGKAI MAWAR YANG LAYU



Disebuah bangku tua,ditepi telaga,aku duduk sendiri dengan segala rasa yang hiruk pikuk didalam pikiranku. Sejuta tanya berkecamuk dalam benakku. Sesekali aku tersenyum,untuk sekedar menghias bibir agar aku lebih terlihat rilexs.



Keringat dinginpun mulai keluar,saat galau kembali mengusikku. Aku masih ingat kejadian terakhir bersama Miemie. Seorang gadis yg begitu lugu,yg kukenal 2 bulan yang lalu.meski usia kami terpaut cukup jauh,tapi tidak menjadikan penghalang untuk kami menjalin cinta. Awalnya semua indah terasa. Aku menyayangi dia,tidak hanya sebagai kekasih tetapi juga sebagai adik. Miemie hanya pasrah,membiarkan aku menjaganya dengan cinta serta kasih sayangku. Sampai akhirnya 2 minggu yang lalu,dia terbata dalam isakan tangisnya mengatakan,

"Bang Rama,bapak sama ibu menjodohkan Miemie dengan laki" lain,tapi Miemie tidak mencintainya. Miemie hanya cinta abang Rama...".

Bibirku kelu,tak mampu berucap. Segala mimpi yang sudah kami rangkai pun,sirna dengan sekejapnya. Aku mengenal Miemie,dia gadis yang patuh dan penurut pada orang tua.aku juga mampu menggambarkan apa yang akan terjadi.

"Abang......

bang Rama..." panggil Miemie sambil mengguncang guncangkan lenganku.

Sedangkan aku hanya terus diam,,,,

Aku tatap wajah didepanku,lalu kupeluk dia erat seakan aku tak ingin terpisahkan lagi dengannya.

"Abang,bawa aku pergi..." bisiknya lirih ditelingaku.

Aku terhenyak,,,karna aku tau membawa dia pergi lebih berat daripada aku memikul gunung himalaya. Kembali aku membisu,membiarkan otakku teruz berpikir. Lalu dengan segenap keyakinan kukatakan padanya...

"Miemie,aku bukan laki laki pengecut yg akan membawa anak orang pergi. Yakinlah pada cinta kita,kita datang pada orangtuamu... katakan apa yg kita rasakan. Mereka pasti mengerti,,,percayalah..."

Gadis itu hanya mengangguk pelan.

*** 

Seperti yang kami rencanakan. Aku datangi rumahnya. Orang tuanya terlihat ramah menjamuku. Akhirnya dengan ragu kukatakan maksud kedatanganku.

" bapak,ibu Miemie mencintai bang Rama,restuilah hubungan kami" Miemie memotong pembicaraan.

"Miemie,bapak dan ibu sudah menjodohkan kamu dengan laki laki lain yg sudah jelas latar belakangnya" teriak Bapak dengan lantangnya,membuat nyaliku semakin ciut.

"tapi Miemie tidak mencintainya pak" sela Gadis itu dalam tangisnya.

"sejak kapan kamu berani membantah bapak? Apa karna dia yg membuatmu jadi seperti ini?"

kembali panah tajam menusuk hatiku. Aku hanya diam terpaku,membiarkan gadis yg kucintai menangis karna membelaku.

Miemie memelukku erat,seperti meminta perlidungan dariku. Ingin aku balas pelukannya,tapi aku tak mampu.

"kau,pergilah! Lupakan anakku,karna dia sudah kujodohkan" teriak Bapak mengusirku.

Entah pula,dengan lesu kutinggalkan rumah Miemie. Tapi sempat kudengar bisikan darinya,meski suaranya parau.

"Abang... hari minggu sore tunggu aku ditepi telaga!"


***

Lama sudah kutunggu disini,,,tapi dia tak kunjung datang. Kembali kulirik jam ditanganku. Astaga,tanpa terasa 2 jam aku menunggu.mataharipu sudah mulai menempatkan cahayanya.

Namun tiba tiba...

. . .

. . .

Miemie... Kusebut nama gadis itu lirih saat kulihat dia berjalan tertatih menghampiriku. Ditangannya menggenggam setangkai mawar yg sudah layu. Aku bangkit berlari kearahnya.

"Miemie" kupeluk erat dia,karna rindu yg sudah mengguncang dada.

Tapi Miemie hanya tersenyum,wajahnya pucat,dia memberikan bunga mawar itu padaku.

"bagaimana Mie?" tanyaku tak sabar.

"semua baik baik saja,abang nanti akan tau sendiri"

Dia pun pergi meninggalkan aku. Tapi kenapa kakiku seperti tertanam dibumi,tak sedikitpun aku punya kekuatan untuk melangkah mengejarnya. Aku hanya memandanginya,sampai dia hilang ditikungan jalan.


***


Waktu menunjukkan pukul 17.30,dengan lesu aku pulang kerumah.

Ada apa ini? Tanyaku dalam hati,saat kulihat orangtua Miemie didepan rumahku.

"nak Rama,,," panggil ibu padaku.

" bapak,ibu ada apa kerumah Rama?" tanyaku pelan.

Tapi yg ditanya malah menunduk meneteskan airmata.

Lalu...

"nak Rama maafkan bapak,,karna ke egoisan bapak,bapak kehilangan Miemie"

"maksudnya apa pak?" tanyaku memotong pembicaraan.

"Miemie meninggal karna bunuh diri.." lanjutnya,dan seketika pula,

DAMN.......!!!!! bagai teriris sembilu hatiku,,,

" ini ada pesan yg Miemie tulis untukmu" kata ibu sambil memberiku sepucuk lipatan kertas



***

Bang Rama kekasihku,

Aku mencintaimu,sampai kapanpun itu.

Aku tak bisa menyakitimu dengan perjodohan ini.

Bukan bang,bukan mati yg kupilih.tapi,aku memilih untuk tidak mengkhianati cinta kita dengan adanya orang ketiga.

Ketahuilah,bang Rama adalah kekasih sejatiku yang sudah mengisi hati dan hidupku.

Maafkan Miemie yg harus pergi tinggalkanmu,tapi kan kubawa slalu cinta darimu,agar kelak kita bersatu dialam yg kekal abadi,disana bang,,,,disurga...


Miemie yg slalu mencintaimu.


***

Tanpa terasa bergulir butiran hangat dari mataku,menetes jatuh dikelopak bunga pemberian Miemie yg masih kupegang itu.

Aku pun hanya membiarkan mawar itu lepas dari tanganku.

Seperti aku merelakan Miemie yg pergi meninggalkan aku_____

-THE END-

Ditulis Oleh : Goresan Hati Hari: 09.47 Kategori:

0 komentar: