Cerpen Sedih Kehidupanku

Aku terduduk dengan tubuh gemetar, merangkul adik yang menangis penuh sesak. Kami menyaksikan ayah dan ibu bertengkar dan saling melempar kata dengan penuh amarah. Aku sangat bosan, aku juga sedih hanya masalah uang, orang tuaku berdebat.


Nama ku Sri Wahyu Naning Tias, aku masuk kedalam keluarga yang biasa saja namun kurang dalam hal ekonomi. Aku mempunyai adik dan kakak. Adik ku bernama Putri dan kakak ku bernama Yuni. Sekarang aku sedang merajuk ke masa dewasa, yaitu duduk dibangku SMP kelas tiga.

Sebenarnya aku punya cita-cita , yaitu menjadi dokter. Tapi jadi dokter tak mudah, aku harus masuk SMA, kuliah jurusan IPA, dan mendaftarkan diri menjadi dokter. Aku tau biaya semua itu sangat mahal, dan ibu melarang aku untuk itu. Aku sangat pasrah dengan pendapat ibu, mau tak mau aku harus menerimanya.
Kehidupanku - Cerpen Sedih
Suatu waktu, aku ingin berenang untuk pengambilan nilai olah raga. Aku meminta segala kebutuhan ku ke ibu.
“ma, nanti tias mau berenang. Uang masuk sama ongkosnya ma…,” ucap ku.
“uang lagi…uang agi.. tias berenang mulu sih.!! Mama lagi ga ada,” jawab ibu ku dengan sangat kesal.
“kata mama kemarin iya,” aku merengek.
“ya duitnya ga ada. Mau bayar pake apah? Daon? Kemarin udah dipake kan sama Tias buat main warnet. Ga ada lagi mama,” ibu ku pun pergi ke dapur.
Ya ampun, beginilah hidup ku. Aku memang harus tabah dan menerima apa adanya. Beruntunglah kakak ku yang sudah mempunyai keluarga sendiri dan tidak satu rumah lagi. Artinya keuangan kami berkurang.
Pagi harinya alarm handphone ku bergetar ditelinga, membuat ku terkejut dan terbangun. Ini adalah kebiasaan ku menaruh handphone ditelinga ketika tidur, bertujuan menunggu getaran alarm dari handphobne itu. Sehingga aku akan cepat terbangun dan mandi.

Ketika selesai mandi, dan berpakaian. Akupun meminta uang jajan kepada ibu.
“ma, jajan ma,” ucap ku.
“lagi gak ada, udah ga usah dulu,” kata ibu ku.
“tapi ma.., kemarin kan udah ga jajan, masa sekarang juga ngaak.”
“ya orang lagi ga ada. Udah pinjem dulu ajah sama temen. Masa ga bisa,” itulah perkataan ibu ku.
Aku sedih karena bukan aku saja yang tidak jajan, tapi adik aku juga. Aku punya sisa uang jajan lusa lalu, sebesar tiga ribu. Jadi aku bias membagi dua uang itu untuk aku dan adik ku. Lalu kami berangkat sekolah yang diantar oleh ayah ku.

Malam harinya, aku tertidur lelap ketika sedang belajar. Aku benar-benar lelah sekali hari ini. Dalam tidur ku, aku bermimpi. Dalam mimpi ku itu, keluarga ku diusir dari tempat tinggal yang keluarga ku tempati. Mereka melempar batu ke arah kami, dan memukul-mukul kami. Kami semua menangis terisak, semua ni karena kami tak bisa membayar semua utang yang telah berlipat-lipat. Tiba-tiba saja sebuah pisau dilempar kearah kami, ibuku lah sasarannya. Ibu ku pingsan ketika itu, dan ayah langsung membawa ibu ke rumah sakit terdekat. Dokter bilang ibu tidak bisa diselamatkan. Aku dan adik ku menangis sejadi-jadinya sambil memeluk jasad ibu. Ku lihat jasad ayah yang begitu frustari. Ayah langsung keluar dari ruangan itu dengan jalan yang tertatih-tatih.

Pagi hari kemudian, isak tangis ku mulai reda. walau aku tak bisa menerima semua kenyataan, tapi mungkin lain waktu aku bisa menerimanya.ku gendong adik ku yang tertidur diatas pelukan jasad ibu tanpa membuatnya terbangun. Aku sungguh bingung ingin kemana, jelas aku sudah tidak punya tempat tinggal. Ku lihat seseorang terduduk dibawah pohon dengat rumah sakit itu. Sepertinya aku kenal. Akupun mendekatinya, ku pegang bahunya dan ia terjatuh. Hanpir saja aku berterak. Ya tuhan ternyata dia adalah ayah ku. Ayah ku benar-benar frustasi, mulut nya berbusa. Ia bunuh diri, ia meninggal. karena nadinya sudah tidak berdenyut lagi.

Dia telah membuat adik ku dan aku yatim piatu. Kemana lagi aku harus melangkah? Aku belum menempuh cita-cita yang ku ingin kan. Yuhan, apa salah ku sampai membuat hidup ku berat untuk dijalani. Dengan siapa lagi aku harus berpenopang? aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi.

Tiba-tiba air mata ku menetes., aku terkejut dan akhirnya terbangun dari tidur ku. Aku sangat bersyukur ternyata semuanya baik-baik saja. Bahkan masih pada tertidur. Itu hanya mimpi, tuhan telah mempertandakan sesuatu lewat mimpi. Aku tau bahwa tuhan memberi jalan untuk ku agar aku harus membantu orang tua ku untuk mencari uang. Yaitu dengan cara belajar dan menjadi anak pintar, itu akan memudah kan aku untuk mencari pekerjaan disaat dewasa nanti. Sekarang aku cuma harus menerima semua dengan apa adanya. Terima kasih tuhan.
PROFIL PENULIS
Halo saya Tias, saya bersekolah di SMPN 256 Jakarta. saya asli Jakarta, umur saya baru 15 Tahun. oiya buat pembaca terima kasih suda berkunjung.

Ditulis Oleh : Goresan Hati Hari: 10.25 Kategori:

0 komentar: